tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, November 20, 2003

Cerita Dari Surabaya

Ini potongan-potongan gambar di kaset yang dikirim Hadi Zulkifli, koresponden Surabaya:
...
Ada 25 wanita berkumpul, semuanya berkerudung. Beberapa tampak sudah berumur, berbedak dengan perona wajah. Ada yang mendekap Al-Quran di dada, seperti mendekap boneka mainan kesayangan.

Hadi : Persiapannya berapa lama sebelum ikut lomba ini?
Suyanti : Lima hari.
Hadi : Sebelumnya pernah belajar ngaji?
Suyanti : Dulu, waktu masih kecil.
Hadi : Di mana?
Suyanti : Di pesantren. Di Tulungagung.


Satu per satu mereka dipanggil naik ke panggung. Membacakan ayat demi ayat kitab suci itu dengan seindah mungkin. Lalu juri menilai. Tidak seperti qoriah profesional memang, tapi mereka tetap mendapat tepukan tangan dari penonton.
Mereka tidak berharap apa-apa dari acara ini, pun trophy dan uang sepuluh juta. Seperti kata Maryam, "Supaya lebih baik saja... mau jadi orang baik-baik..."

Mereka datang dari lima wilayah di Surabaya. Dolly, Jarak, Moro Seneng, Kremil, dan Bangun Rejo. Lima tempat itu adalah lokalisasi terkenal di Surabaya.
Sore itu mereka berkumpul di lokalisasi Jarak, berusaha lepas sejenak dari ritus yang membuat mereka tampak nista di mata masyarakat.
Mereka ingin jadi orang baik-baik, setidaknya hari itu saja, mumpung lagi ada lomba MTQ bagi para PSK se-Surabaya.
...
Toh seharusnya tak perlu peduli pada status..., karena Ramadhan milik semua orang yang rindu pada-Nya...