tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, November 01, 2003

Bendera-Bendera


Gambar bendera ini kutemukan di sebuah situs asing di internet. Dengan keterangan yang terkesan sangat berbahaya dan separatis. Mau ketawa rasanya, bendera-bendera itu adalah hasil energi kreatif yang berlebih dari teman-teman mahasiswa di Makassar.
Beberapa kali aku sempat ikut demo waktu tuntutan Sulawesi merdeka itu. Demo itu buntut ketidakpuasan mereka terhadap Jakarta yang dianggap tidak adil. Waktu itu memang sempat agak kacau situasinya. Tapi menurutku mereka tidak pernah betul-betul berniat untuk melakukan tindakan separatis sejauh itu. Yang ada hanya kumpulan anak-anak muda yang semangatnya lagi tumpah ruah, dan kebetulan menemukan isu chauvinis yang saat itu lagi gema-gemanya.

Pernah ada teman mahasiswa yang berorasi, "Jawa hanya bisa mengeksploitasi daerah. Kalimantan digunduli, Sulawesi dibabat, Irian dikuras. Tapi kita tetap miskin dan mereka makmur belaka."
Dari kalimat-kalimat seperti inilah ide untuk memisahkan diri dari NKRI itu mulai bermunculan seperti busa sabun yang diaduk-aduk.
"Biar orang di Jawa miskin dan kelaparan!" kata mereka.

Sejatinya, demo-demo itu tak butuh darurat militer untuk membubarkan mereka. Ya karena mereka memang tidak pernah berniat untuk benar-benar merdeka. Mungkin ingin bermain-main saja. Menyalurkan hasrat terpendam atau sekadar ingin terbebas dari pengapnya ruang kuliah barang sebentar. Makanya tidak heran waktu demo itu dulu, bisa ada lebih dari lima bendera Negara Sulawesi Merdeka yang berkibar di tengah-tengah barisan, tergantung BEM-nya.
...
Eniwei, Indonesia sesungguhnya memang rentan separatisme. Sekarang aku lagi mengerjakan program Hitam Putih: Pemberontakan Dari Masa ke Masa, rencananya bakal tayang pas ulang tahun GAM Desember nanti. Dari situ aku baru sadar bahwa sejak proklamasi kemerdekaan, sejarah pemberontakan di Indonesia ternyata lumayan panjang juga ceritanya. DI/TII, PRRI/Permesta, RMS, OPM, GAM, Timtim, dan beberapa pemberontakan kecil yang ditulis gak sampai satu paragrap dalam buku-buku SD.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa bisa begitu banyak?
Jawaban dengan logika pentium 1-ku: jika ada yang mencoba melawan itu pasti karena ia terzalimi, dan jika ada yang terzalimi berarti ada yang telah berbuat tidak adil.

Timor Leste salah satu contoh yang berhasil "memperjuangkan" nasibnya. Melalui proses panjang, mereka berhasil melawan hegemoni sebuah negara dan sukses membebaskan diri. Tapi mengingat ribuan nyawa prajurit yang melayang ketika merebut dan mempertahankannya dulu, ironis juga jadinya. Satu yang pasti, pengorbanan mereka tidak sia-sia meski yang telah mereka perjuangkan itu telah tak bisa lagi dijamah dan dirasa. Setidaknya itu akan menjadi kitab bagi pemimpin selanjutnya untuk belajar menghargai kehidupan, betapa pun sepelenya.
...
Ah, bergaul dengan file-file pemberontakan ini, membuatku bisa sedikit memahami isi kepala para tokohnya. Di bangku sekolah, sejarah hanya milik orang yang menang saja. Mereka yang terpuruk dipenjara atau mati ditumpas hanya jadi antagonis di novel-novel depdikbud itu. Dan di sini, aku dipaksa melepas kacamata kuda dan melihat dengan view yang berbeda. SM. Kartosuwiryo, Andi Azis, Kahar Muzakkar, HNV Sumual, Hasan Tiro, Xanana, adalah manusia juga. Sama saja dengan kita, bedanya mereka berani melawan!
Hidup Indonesia!