tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, November 15, 2003

Artis Kagetan, Kesendirian


Lima tahun lalu, seorang gadis yang menderita gangguan jiwa diperkosa oleh petugas Rumah Sakit Jiwa tempat dia dirawat, sampai hamil. Pihak rumah sakit menyatakan tidak bertanggung jawab dengan peristiwa yang menimpa gadis itu. Tidak ada yang mau mengakui anak yang dikandungnya. Beberapa bulan kemudian sang anak lahir, tapi ibu muda itu malah hilang tak ketahuan rimbanya.

Kasusnya terjadi di Solo, tahun 1997, dan sampai sekarang belum tersingkap tabir hitam yang menutupinya. Di tempat kerjaku, ada program yang khusus mengangkat kasus-kasus seperti ini. Namanya Lacak!, ditayangkan setiap Selasa malam jam 10. Konon, program ini dibuat untuk mengingatkan polisi atas utang-utang kasus di meja mereka.
Kali ini teman-teman di Lacak! mengangkat kasus Mulgiyanti, seorang pasien RSJ yang diperkosa --konon-- oleh lima petugas RSJ tempat dia dirawat. Naskahnya udah jadi, dan tadi sore pembuatan ilustrasinya. Pengambilan gambarnya di sebuah klinik di daerah Tegal Parang, yang di-set menjadi seperti bangsal RSJ.
Decil, reporter sekaligus penulis naskahnya meminta bantuanku untuk menjadi pemeran di salah satu adegan. Atas nama pertemanan, aku turuti permintaannya. Kesepakatan awal kami, aku akan berperan sebagai bapak si gadis--peran netral yang menurutku tidak akan membuat ibuku di kampung mencak-mencak ketika menontonnya. Aku pun sudah bersiap-siap dengan kemeja dan celana kain (padahal sebenarnya benda ini tak pernah ada dalam daftar inventaris barang pribadiku.)

Tapi sampai di lokasi, skenarionya ternyata sudah berubah, dan aku tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan sutradara. Jadinya aku harus memainkan peran yang tersisa, maka aku pun memerankan tukang sapu yang juga ikut memerkosa Mulgi-- yang diperankan Santi (Aku lihat Santi juga agak kepayahan dengan beberapa kali adegan meronta-ronta!)
Satu dari lima pemerkosa, dan aku berdiri paling depan!
Ampun! Hancur sudah citra santri nan alim yang selama ini kupertahankan. :D

(Tonton program Lacak! dua minggu depan, ada pemerkosa tinggi besar berbaju kotak-kotak paling depan, itulah aku! Oh ya, untuk Lacak! minggu depan ini kayaknya wajahku juga nongol sekelebatan sebagai penemu mayat di WC bioskop.)

Pukul delapan malam, shooting yang melelahkan itu baru berakhir. Tak terbayangkan bagaimana kalau menjadi artis beneran ya? Beruntung, setelah itu kami semua ditaktir makan di Spicy Kitchen, sehingga rasa lelah dan lapar yang tertahan sejak buka tadi terbungkam sudah.

----

Malam ini ada email dari seorang teman, menanyakan apa aku masih ingin terus menjadi backpacker. Sekalian dia merekomendasikan website yang katanya berisi info-info bacpacking. Bagi kalian yang punya minat sama, coba saja berkunjung ke bootsnall dan lonelyplanet.

Tanpa bermaksud cengeng, di email itu dia juga cerita tentang kesendirian, tulisnya: "...dulu kau pernah bilang kita gak boleh takut sendiri, karena pada akhirnya kita bakalan sendiri...--ingat ceritamu tentang pohon?-- Tapi kaya'nya saya belum bisa seperti itu. Yang saya tahu, dengan bertambahnya usiaku... teman adalah hartaku yang paling berharga..."

Namanya Nina, aku biasa memanggilnya Nong. Seorang gadis pecinta alam dan petualang. Pekerjaannya menjelajahi gunung dan gua bawah tanah membuat kuliahnya belum juga menemui titik finish sampai saat ini. Pertemanan baginya adalah harga mutlak. Begitu pun kepadaku, sebelum pada akhirnya aku berbuat kesalahan dan merusak semuanya.

Dia selalu temanku, dan sudah seperti adikku sendiri. Aku rasa, siapa pun yang telah mengalami kehidupan sepertinya, pasti akan sangat menghargai pertemanan. Dalam suatu ekspedisi penelusuran gua, dia dan satu timnya terjebak di kedalaman sekitar 60 meter di bawah tanah, dengan seorang teman yang patah tulang lehernya.
Seharian mereka berjuang untuk naik ke atas, tanpa seorang pun ditinggalkan. Hanya pertemanan yang bisa membuat mereka kembali ke permukaan. Itulah mengapa dia sangat menjunjung tinggi kata itu.
(Backpacker's Rules No. 6: Jangan pernah meninggalkan teman, hanya karena dia tak mampu mengikuti kekuatan langkahmu!)

Nong, tahukah kamu kalau aku ngomong begitu karena sebenarnya aku sendiri takut, takut pada kesendirian itu. Padahal ini harga yang harus kubayar sebagai seorang pejalan! Tapi makasih banyak sudah mengingatkanku!

...
Hari ini aku juga mesti ngucapin makasih banyak buat Lies yang memberiku sebuah buku bagus "Iltizam, Membangun Komitmen Seorang Muslim". Hadiah ulang tahun, katanya.
Makasih, semoga terlindungi kalian semua!