tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, November 30, 2003

The Death of Pak De


Belakangan ini, gambar-gambar yang terekam di kameraku membuat jiwaku retak. Satu kali tentang kehilangan, dua kali tentang kematian. Setelah Awo, giliran Pak De yang kulihat tak bernyawa lagi. Pak De --nama aslinya Sirajuddin-- adalah orang yang selama ini dituduh membunuh peragawati kondang Dietje Budiasih pada tahun 1986 silam. Jumat malam dia meninggal di Surabaya, Sabtu malam tadi tiba di Jakarta dan langsung dimakamkan malam itu juga.
Kecuali perjalanannya dari Surabaya, semuanya berlangsung begitu cepat. Jenazahnya datang, dimandikan, dikafani, lalu dibawa pergi. Tidak semua kurekam di kamera. Ada beberapa bagian yang kubiarkan lewat. Malam ini aku sedang tak ingin membuat dokumenter tentang kematian.

"Kamu pucat sekali tadi. Pengaruh psikologis ya?" tanya Ali di ruang logistik, sepulang liputan.
Aku berusaha tertawa. Perlukah kujelaskan seberapa besar ketakutanku pada sebuah ritual kepergian seperti itu?
Ketika diajak ikut ke pemakaman, aku menolak halus dengan alasan harus cepat-cepat tiba di kantor jika ingin berita ini ditayangkan besok pagi. Padahal sebenarnya bukan itu alasan sesungguhnya.
Entah, tiba-tiba aku menjadi begitu penakut. Aku tidak siap melihat seseorang ditimbun tanah, bergabung dengan tanah, dan di tengah malam pula. Langit tak seberapa terang untuk menerangi keberanianku.
Bayang-bayang kematian bermain-main di kepala. Seperti apa kita kan berakhir, Kawan?
...
Pak De-- empat belas tahun hidupnya dilewatkan di penjara atas tuduhan yang tak pernah diakuinya. Setahun lalu dia bebas, dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Hanya setahun. Tadi malam, doa para pelayat mengantarnya pergi lagi, pulang kepada penciptanya. Di sana bisa jadi dia bertemu dengan Dietje Budiasih, wanita cantik yang penuh luka tembak itu.
...
Dalam perjalanan pulang ke kantor, aku tak sempat berpikir apa-apa lagi. Aku ingin tidur. Tak perlu lama, asal bisa kulupakan semua itu barang sejenak.

Saturday, November 29, 2003

Suatu Pagi, Suatu Ketika

Menurut proyeksi, pagi ini harus ke Kali Adem-Muara Angke lagi. Karena dianggap membandel, korban gusuran yang masih menempati areal itu, rencananya akan diusir paksa oleh lurah setempat. Deadline-nya sampai tanggal 30 besok. Sehari sebelum lebaran kemarin aku sudah sempat ke sana dan membuat personalisasi keluarga Gusuryanto; seorang bayi yang lahir di tengah keputusasaan ibu bapaknya --sehingga ia dinamai seperti itu!

Dulu, menjelang deadline penggusuran warga Tegal Alur di Cengkareng, aku --kalo tidak salah dengan Mbak Ami-- juga kebagian tugas liputan. Datang dengan segepok perabotan lenong dan berlagak seolah-olah kedatangan kami itu bisa menyelamatkan mereka dari penggusuran.
Tapi toh mereka tetap harus pergi, tanpa kami bisa berbuat apa-apa. Kali ini mungkin akan seperti itu lagi.
...
"Kalian liput atau tidak gak ada pengaruhnya bagi kami! Lihat, kami tetap kehilangan tempat tinggal..." kata seorang warga kepada wartawan, di atas puing-puing rumahnya--suatu ketika.
...
Lalu apa gunanya semua "perabotan lenong" kita itu, Kawan?!!!

Friday, November 28, 2003

Kepada Yang Mendahului


Tadi malam ikut melayat ke rumahnya Arie Wailan Orah, kameramen Indosiar yang meninggal karena kecelakaan panser di Aceh. Melihatnya terbaring di peti mati, membuatku berpikir ulang tentang banyak hal. Ah, pasti beku dan dingin sekali di dalam kotak itu!
Satu lagi wartawan mati. Bukan persoalan resiko pekerjaan. Bahkan di masa damai sekalipun ajal bisa menjemput sebelum kita benar-benar siap.
Pastilah, sebagai mahluk yang hidup kita semua akan mengalaminya. Siap atau tidak.
Mereka yang telah pergi sebelum kita, dengan cara bagaimanapun, seharusnya bisa menjadi petanda. Kata Victor Hugo, setiap manusia pada saat dia lahir telah menerima hukuman mati dalam hidupnya, dan tinggal menunggu kapan hukuman mati akan dijatuhkan. Maka dalam masa penantian yang menyiksa itu, sebagai mahluk lemah dan tak bisa berbuat apa-apa, tak ada yang bisa kita lakukan selain berbuat baik...


ps.
Sekedar mengenang, ini dua e-mail yang aku copy dari sebuah milis, tentang Awo--Arie Wailan Orah:

From: "hsgautama" <.......@cbn.net.id>
Date: Fri, 28 Nov 2003 20:54:31 +0700
Subject: Arie, sebulan silam di Makasar

Pagi ini adalah pagi suntuk buat saya.
Sepanjang pagi pikiran saya tidak ada henti mengingat si Arie (atau kondang dipanggil Awo).

Belum lama sebulan silam saya masih bersama dia di Makasar. Kita menginap disatu hotel yg sama di Losari Beach, dan disanapun dia ditemani oleh reporternya yg kini masih dalam keadaan terbaring parah di RS.
Dia datang untuk mengerjakan liputan PATROLI (salah satu program Indosiar), sedang saya mengerjakan
program JELAJAH. Hampir setiap malam kami duduk bersama ngopi di lobi hotel sambil bicara ngalor ngidul.
Kami berteman lama. Ketika INDOSIAR berdiri dan dibuat Divisi News, dia adalah salah satu dari lima org pertama yg direkrut kesana bersama Agung "Bebek" (lalu jadi koordinator cameraman)
Sempat saya katakan: Arie lu sekarang kaleman, engga kayak dulu berantem melulu bawaannya.
Dia tertawa, katanya nyantai: umur Yat, umur...membuat kita makin sabar dah....

Sekarang dia sudah tidak ada.
Sedih rasanya. Ada kawan yg pergi, dan itu terasa betul.
(Banyak teman seangkatan saya yang sudah pergi, dan kini dia)

yang ikut berduka.
Hidayat SG -Cameraman
Transtv JKT


---------


From: "Tomi Satryatomo" <.....@cbn.net.id>
Subject: RE: Selamat Jalan AWO...

Kehilangan teman sejawat selalu menyedihkan.
Tatkala mendengar ada panser TNI yang masuk jurang, saya langsung
merutuk dalam hati, payah juga nih TNI, banyak korban jatuh gara-gara
kecelakaan kendaraannya sendiri. Beberapa bulan lalu, Jenderal Tarto
sempat marah-marah karena banyak prajurit yang tewas atau luka gara-gara
kecelakaan kendaraan bukan di medan tempur.

Tapi ketika sampai berita bahwa kecelakaan ini merenggut nyawa rekan Ary
Wailan Orah, duka langsung menyayat. Apalagi ketika jeritan keluarga Ary
melengking dari speaker TV, memenuhi ruangan.

Selamat jalan kawan..

Wassalam
Tomi

Thursday, November 27, 2003

Memperingati Satu Hari yang Brutal

...

Wednesday, November 26, 2003

Setelah Satu Bulan Mencari Tuhan


Sangat Minimalis!
Satu lagi Ramadhan berlalu, dan rasanya tidak banyak peningkatan kualitas keimanan yang kualami. Masih biasa-biasa saja. Meski puasaku lancar dalam kalkulasi kuantitas --artinya tidak ada yang bolong-- tapi shalat tarawehnya sangat minimalis; bisa direken dengan jumlah jari dua tangan.
Sebulan lalu, aku punya niat memperbaharui tekad menjelang Ramadhan. Atas nama semangat progresivitas, tak ada pilihan lain! Ramadhan ini harus lebih baik! Maka aku pun melakukan tindakan antisipatif untuk sedapat mungkin menghalau iblis yang bersarang di atas kepala.
Ikut di Majelis Ta'lim, adalah satu yang aku lakukan di (awal-awal) Ramadhan ini. Tapi semakin lama, majelis taqwa itu juga semakin jauh dariku. Makin hari, rasanya jadi berat sekali jika harus melangkahkan kaki ke lantai 1 setiap menjelang maghrib. Pada akhirnya aku hanya bisa beralasan, tak banyak waktu luang tersisa. Jadi, maafkan. Ajakan Bang Abaw untuk itikaf juga kutanggapi dengan garukan kepala, padahal dulu itu juga salah satu niatku, dalam rangka memperbaiki diri.

Tidak boleh menyalahkan situasi. Pada intinya memang aku yang malas. Entah kenapa.
Padahal seharusnya bisa menjadi lebih kuat di Ramadhan ini.

Di Mana Kamu Malam Lebaran Kali Ini?
Ternyata betul-betul gak bisa pulang kampung. Maka terjebaklah aku di belantara sunyi Jakarta yang malu-malu ditinggalkan penghuninya. Jakarta, kau sangat tidak menarik di saat-saat seperti ini!
Malam Lebaran, Istiqlal kehujanan. Menunggu fatwa dari Depag bahwa Idul Fitri jadi besok hari. Menghitung-hitung orang yang datang. Tidak banyak. Sekelompok polisi bergerombol di saf belakang. Seorang kerdil bertongkat tertatih-tatih menyusuri karpet. Di saf depan, mereka sibuk mengaji, untuk khatam yang kesekian kalinya, mungkin.
Ada ibu-ibu, gila kamera. Katanya mau bayar sepuluh ribu kalo bisa masuk tivi. Hahahaha.

Selamat Idul Fitri 1424 H, Selamat Menempuh Jiwa yang Baru...
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan shalat Id di mesjid dekat rumah. Hari ini masuk siang, karena kemarin dapat jatah liputan sampai malam. Sehari sebelumnya, menjenguk warga korban gusuran di Kali Adem mempersiapkan lebaran mereka. Tak ada opor ayam, apalagi baju baru. Hanya tenda memanjang biru merah yang melindungi mereka dari ganasnya hujan. Seorang bocah lahir seminggu lalu, ditengah puing dan bekas bongkaran, oleh ibunya diberi nama: Gusurianto.

----

Masuk kantor, bahkan ketika air mancur di depan lobi juga mati. Gak ada istilah bagi pekerja seperti kami. Lupakan sentimentalisme berkumpul dengan keluarga di hari lebaran. Libur masih jauh, dan tak perlu dikejar. Harus standby jika seketika ada apa-apa menimpa Jakarta.
Malamnya aku dan Mira ditugasin ke RS Fatmawati, up date kondisi korban kecelakaan metromini yang ditabrak kereta di Bintaro. Harusnya ada ketupat malam ini, bukan bocah berdarah yang terisak memandangi ibunya juga penuh luka. Hari lebaran ini, satu keluarga berkumpul. Seorang nenek, seorang ibu, dan tiga cucu, ---kecuali dua bocah laki-laki yang digabung jadi satu--- masing-masing dapat satu ranjang di ruang observasi RS. Fatmawati.
Di tivi, suara takbir menggema gembira, tapi bau obat itu terasa sangat menyengat. Dan banyak selang infus berseliweran di mana-mana.

Friday, November 21, 2003

Para Ayah Kepada Anaknya


Luqmanul Hakim, orang bijak dalam kitab suci itu berkata kepada anaknya:
Anakku, dirikanlah shalat dan ajaklah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah. [31:17]
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. [31:18]
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. [31:19]
...
Terpisah jarak dan sejarah ribuan tahun, aku pernah dengar Dik Doank, seorang entertainer, berkata kepada anaknya:
"Nak, kecuali apa yang agama larang, bebaskan dirimu memilih jalan!"
...
Bapakku, laki-laki bersahaja, pensiunan pegawai negeri, berkata kepadaku:
"Kalau kamu memang ingin nakal, nakallah sewajarnya. Tapi kamu jangan merusak sesuatu yang kamu tak bisa ikut memperbaikinya."

Kurasa, tak ada beda bapakku dengan mereka. Sama-sama ingin melindungi anaknya, seluas kemampuan tangannya.
Selamat Idul Fitri, Bapak. Kau tahu aku sangat merindukanmu...

Thursday, November 20, 2003

Backpacker's Rules

(Versi halamanrawa--bisa beda dengan versi lain, tapi semoga sama)

#1. Dilarang keras mengeluh --apalagi cengeng, nanti jadi sayur
#2. Jangan merusak apa pun, apalagi kalo tidak bisa ikut memperbaiki.
#3. No sentimentalromantic journey (optional)
#4. Di mana pun dirimu singgah, jangan meninggalkan sampah --sampah fisik maupun mental.
#5. Hanya satu jalan yang tak bisa kita tempuh; hanya tepian langit!
#6. Tidak ada sejarahnya meninggalkan teman hanya karena dia tidak bisa mengikuti kekuatan langkahmu.
#7. No final destination.
#8. Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru.
#9. Take nothing but picture. Leave nothing but footprint. Kill nothing but time!
#10. Biasakan berdoa, bahkan bagi kalian yang tak percaya Tuhan sekalipun.
#11. Jangan pernah menyakiti siapa pun yang kau temui di perjalanan, karena dunia betul2 selebar daun kelor. Suatu hari kau mungkin akan bertemu dengannya lagi di belahan bumi lain.
#12. Kerendahan hati adalah mutlak, karena kita hanya sebutir debu di bumi-Nya ini. Kesombongan adalah kegagalan menjadi manusia.
#13.
#14.
...
#Terakhir: Selalu yakin, matahari tenggelam masih jauh.

Kok cuma segini, perasaan dulu sudah ngumpulin banyak...

Cerita Dari Surabaya

Ini potongan-potongan gambar di kaset yang dikirim Hadi Zulkifli, koresponden Surabaya:
...
Ada 25 wanita berkumpul, semuanya berkerudung. Beberapa tampak sudah berumur, berbedak dengan perona wajah. Ada yang mendekap Al-Quran di dada, seperti mendekap boneka mainan kesayangan.

Hadi : Persiapannya berapa lama sebelum ikut lomba ini?
Suyanti : Lima hari.
Hadi : Sebelumnya pernah belajar ngaji?
Suyanti : Dulu, waktu masih kecil.
Hadi : Di mana?
Suyanti : Di pesantren. Di Tulungagung.


Satu per satu mereka dipanggil naik ke panggung. Membacakan ayat demi ayat kitab suci itu dengan seindah mungkin. Lalu juri menilai. Tidak seperti qoriah profesional memang, tapi mereka tetap mendapat tepukan tangan dari penonton.
Mereka tidak berharap apa-apa dari acara ini, pun trophy dan uang sepuluh juta. Seperti kata Maryam, "Supaya lebih baik saja... mau jadi orang baik-baik..."

Mereka datang dari lima wilayah di Surabaya. Dolly, Jarak, Moro Seneng, Kremil, dan Bangun Rejo. Lima tempat itu adalah lokalisasi terkenal di Surabaya.
Sore itu mereka berkumpul di lokalisasi Jarak, berusaha lepas sejenak dari ritus yang membuat mereka tampak nista di mata masyarakat.
Mereka ingin jadi orang baik-baik, setidaknya hari itu saja, mumpung lagi ada lomba MTQ bagi para PSK se-Surabaya.
...
Toh seharusnya tak perlu peduli pada status..., karena Ramadhan milik semua orang yang rindu pada-Nya...

Wednesday, November 19, 2003

Pelajaran-Pelajaran Kecil


Kabarnya di Terminal 3 Cengkareng malam ini ratusan TKI dipulangkan dari luar negeri, dan kami didrop ke sana setelah di terminal kargo gagal mengejar serah terima jenazah seorang warga Bandung yang mati di Jepang.
Di terminal 3 ternyata tidak segampang yang kami duga.
Wartawan tidak boleh masuk! Kami pun ngambil gambar sembunyi-sembunyi. Dan itulah awalnya.
Waktu masih berbasa-basi dengerin ocehan seorang calo mabuk tentang lahannya yang diserobot, tau-tau aku dengar petugas yang di dalam gedung udah teriak-teriak. Kami ketahuan!
"Oi, ada wartawan nyolot tuh. Brenti! Brenti!"
Aku, Rozak dan Beng, terkejut dan segera berbalik arah. Petugas itu masih teriak-teriak. Kami mempercepat langkah. Pura-pura tidak mendengar.
"Benny! Urus itu!"
Benny ini preman yang mangkal di terminal situ. Pake jaket kulit hitam dan kupluk. Tadi aku sempat ngomong sama dia, dan jelas sekali aroma alkohol dari mulutnya.
Mendengar kata 'urus' aku sudah punya firasat buruk. Itu bisa berarti 'beri pelajaran' kalo dalam kamus premanisme.
Aku teriak ke Rozak, kameramenku, "Jek, kamu lari duluan! Kita menyebar. Ketemu di mobil nanti!"
Kamera dipegang sama Rozak, terus di kasih ke Beng. Beng lalu ngumpet di wartel. Aku sendiri segera menghilang ke kerumunan sambil membalik jaketku yang ada logo kantornya, masalahnya aku yang paling mereka kenali.
...
Akhirnya aku ketemu Beng di lapangan. Kamera sama kasetnya aku ambil dan kubungkus dengan jaket. Beng balik ke parkiran ngambil mobil, dan aku memutuskan keluar dengan jalan kaki. Khawatir ada apa-apa dengan kamera.
"Beng, aku tunggu di depan!" kataku.
Ternyata di belakangku mereka masih diikuti. Beng panik nyetir mobil dan nabrak sesuatu. Ada bunyi keras seperti benda beradu. Akhirnya kami ketemu dekat pintu keluar, tapi masih panik.
...
Di luar bandara kami baru bisa bernafas lega. Beng turun memeriksa kendaraan. Ada sedikit penyok di bagian bemper, kayaknya nabrak drum tadi.
...
Ini bukan kali pertama aku berurusan dengan orang yang ingin mencelakakan. Selalu saja ada orang seperti ini kutemui. Mungkin mereka orang-orang yang tak sengaja aku tindas haknya. Mungkin orang-orang yang aku persempit kebebasannya. Mungkin mereka yang merasa terancam bila aku ada!
Tapi tak boleh ada yang disalahkan. Mereka bisa salah, seperti kami pun bisa bersalah. Dan itu bukan alasan untuk menghakimi.

Aku tahu kalau di dalam sana itu pungli merajalela, para calo berkeliaran mencatut harga dan memeras. Tapi itu tidak berarti orang sepertiku berada di posisi paling benar. Tak ada yang bisa menentukan bahwa nilai terbenar ada di tangan kami.

Tuhan, aku takut, semakin lama aku di sini, semakin aku menjadi pengidap hero complex. Merasa diri paling benar, paling penting, dan di luar sana bejat dan kotor belaka.
Aku takut merasa telah bersih, dan dengan itu aku sombong. Padahal kesombongan adalah kegagalan menjadi manusia.
Ingatkan aku selalu, Tuhan...
Ingatkanlah...

Tuesday, November 18, 2003

Suatu Malam di Gambir

...
"Aku udah ke Senen juga, Bang, antriannya masih sepi."
"Di sini juga, ramenya sih abis sahur gitu. Tapi hari ini kayaknya belom tuh."
...
"Udah lama di sini, Bang?"
"Saya kan sudah bilang tadi, saya ini korban sembilan tujuh. Biar kata dulu perusahaan kecil juga, tapi gaji tetap ada."
"Kalo saya dari tahun lapan sembilan. Kita ini masih baru-baru."
"Segitu masih baru?"
"Iya, ada yang dari kecil udah di sini. Dulu mereka makan dari sisa-sisa gitu."
...
"Pernah ketangkap gak, Bang?"
"Tahun lalu. Pasrah aja. Di sana dijewer sama polwan. Hahahaha."
...
"Bohong kalo ada yang bilang kerja gini duitnya banyak, bisa kaya. Bohong itu. Saya udah seminggu ini gak pegang duit!"
...
"Saya mesti bilang apa kalo anak saya nanya. Masak saya bohong. Kalo anak saya nanya 'Bapak kerja apa di Jakarta?', ya saya bilang jadi calo. Mau apa lagi?"


Tengah malam tadi aku bertemu mereka di stasiun Gambir. Duduk melingkar menghadapi segelas kopi dari plastik bekas air mineral. Ketiganya calo tiket kereta api. Satu orang mengaku berasal dari Malang, berkumis --lebih mirip serse menurutku-- oleh teman-temannya di panggil 'To'. Mungkin namanya Toto atau Anto. Seorang lagi masih lumayan muda, tapi katanya sudah sejak tahun delapan sembilan jadi calo di Gambir, berasal dari Medan. Namanya khas orang Batak: Ucok.
Yang satu lagi aku tak tahu namanya, lebih banyak diam sambil menghisap rokoknya. Orangnya kurus. Rasanya hanya sekali dia ngomong, tapi aku lupa dia ngomong apa. Tiba-tiba pamit pergi entah kemana saat obrolan masih berlangsung.

Hanya ingin tahu cara pandang mereka, sehingga aku membiarkan mereka bercerita. Selama ini mereka dianggap banyak meresahkan calon penumpang, tanpa pernah ingin tahu mengapa mereka tetap bertahan jadi calo. Sangat tidak adil menurutku. Bahkan penjahat sekalipun tetap punya hak membela diri.

"Itu, spanduk itu," Ucok menunjuk spanduk di atas kami. Aku tidak melihat apa-apa selain ucapan selamat berpuasa dari sebuah perusahaan mi instant.
"Baru saja ditutup pake itu. Di belakangnya tulisannya dua ratus ribu bagi yang bisa menangkap calo."
...
"Kami ini hanya cari makan. Lagipula kami suka sama suka, kalo nggak mau ya nggak usah. Tapi mereka mau tidak antri seharian?"

Oh aku ingat, bapak yang namanya aku lupa tadi menanyakan apa ada pasal KUHP-nya bagi kegiatan percaloan. Aku jawab tidak tahu, karena memang tidak pernah mendengar tentang itu.

Lewat tengah malam, orang kantor menelpon kami agar bergerak lagi. Tadi sudah ke Senen dan ke kantor KA di Juanda, masih sepi, nggak ada antrian padat seperti yang diperkirakan. Di Senen malah hanya ada orang yang main kiu-kiu. Tapi oleh bos disuruh ngecek ke sana lagi.

Aku pun pamit pada bapak-bapak calo itu, setelah meikhlaskan dua kaleng Pocari-ku untuk mereka. Pocari itu bekal begadangku, tapi kayaknya mereka lebih butuh. Sebenarnya mau ngasih rokok, tapi gak bawa. Meski udah lama brenti merokok, biasanya selalu ada satu dua bungkus di dalam ranselku, buat alat pergaulan kalo lagi dibutuhkan. Rokok memang senjata gaul paling ampuh! Kepada siapapun pasti mempan buat buka jalan.
...
Lewat di pintu 3, ada empat orang remaja keturunan lagi mengobrol sesama mereka sambil berdiri. Kelihatannya mau mengantri tiket juga. Di dekatnya pedagang asongan hilir mudik tak kenal jam kerja.
Sedikit lagi menuju keluar, seorang bocah dekil tertidur di lantai dekat pintu masuk. Baju gombrongnya sekalian jadi selimut. Tepat di atasnya, sebuah spanduk berkibar-kibar, bertuliskan "Selamat Berlebaran Bersama Keluarga".
Itu pesan bagi para pemudik kiranya. Bukan bagi dia yang terlelap tanpa bantal, dan kedinginan pula.

Monday, November 17, 2003

"...."


Ada saja orang yang gak konsisten.
Mestinya hari ini liputanku mulai jam 2 siang sampai jam sepuluh nanti malam. Jadi jam dua belas, aku udah nongkrong di kantor. Ternyata jadwal liputanku dipindahin ke malam hari. Jaga malam. Itu artinya aku mesti begadang sampai pagi. Baru dibilangin pas udah di kantor. Kalo tau begitu, mending tidur aja dulu buat persiapan nanti malam. Mau balik ke kosan juga tanggung. Mau tidur di kantor gak bisa, AC-nya dingin banget!
Yah, beginilah nasib pegawai rendahan. Harus mendengar dan taat.

Tadi juga menghadap ke bagian keuangan, hari ini udah dijanjiin duit SPJ-ku bakal keluar. Lagi-lagi dipingpong; tunggu Mbak inilah, menghadap ke Mbak itulah. Ujung-ujungnya disuruh nunggu lagi.
Susah sekali menuntut hak sendiri.
I wish I was a neutron bomb!
Rasanya mau meledak saja.

Sunday, November 16, 2003

Piece To Camera

Pasar Tanah Abang ramainya minta ampun.
Untuk bergerak pun susah. Pembeli dan pedagang bercampur baur.
Seorang ibu menggetok kap sebuah mobil Peugeot karena mobil itu ngotot maju di jalan yang padat. Ketidakpedulian yang mendarah daging! Egois tak berperikemanusiaan. Sudah tahu jalan sempit dan ramai, kenapa pula selalu merasa seperti raja?
Teriakan pedagang yang menawarkan diskon riuh sekali, dan pembeli yang menawar tak kalah riuhnya.

Sogo Jongkok, ke sanalah kami pagi tadi.
Kata pedagangnya, pasar kaget ini hanya buka pada hari Minggu. Diberi nama Sogo Jongkok karena serasa berbelanja di Sogo tapi dengan harga jongkok!
"Inul aja belanja di sini, Mas," kata seorang bapak.
Liputanku bersama Muhar hari ini tentang perang diskon di pasar-pasar tradisional. Mestinya tadi ke Cipulir juga, tapi hujan deras membuat mobil susah sekali melaju di tengah kemacetan. Akhirnya berbelok ke Kebayoran Baru, tidur siang di emperan Mesjid Al-Ihsan.

Tidur sekitar satu setengah jam di bawah riuhnya petir. Jam tiga sudah harus ke Kelapa Dua, merapat ke markas Brimob di sana. Pak Brimob lagi ulang tahun, kata bos di kantor.
Ada AA Gym, berceramah di hadapan pejabat-pejabat polisi, memberi nasehat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang membuat sekelilingnya tidak merasa terancam di mana pun dia berada.

Pulang ke kantor. Tiba-tiba merasa begitu malas. Kayaknya butuh beberapa potong roti pisang bakar coklat dulu untuk bisa semangat. (hmmm... Ibu Negeri Senja, roti pisang bakar coklat nih...:-p).


Btw, hari ini ulang tahunnya Brother Uce.
Aku tahu, Ce', sepertiku, kau pun telah lama mengabaikan hitungan matematis seperti ini. Tapi ini satu puisi yang selalu mengingatkan kita pada kenangan yang tak bisa lagi dicetak ulang. Jangan anggap ini ucapan selamat ulang tahun, apalagi hadiah:

Seperti Pohon..
Di pokok kita masih satu
Lantas kita berpisah di cabang
Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan
Ada yang terus ke atas
Ada yang kedepan, ada yang ke belakang
Atau bilapun masih satu di cabang
Kita nanti akan berpisah juga di ranting
Ke atas, ke kiri, ke kanan, kedepan, ke belakang

Saat kita kecil dulu kita masih satu
Masih anak kecil
Lantas sedikit demi sedikit
Waktu kita bikin kita beda
Waktunya makin banyak, beda kita tambah banyak
Itulah kita...

(Jejak-Jejak, Bubin Lantang)


Tetap Semangat! Karena dunia tidak berutang apa-apa pada kita!
---Bikin Bapak dan Bunda bahagia, Bro... karena mereka terlanjur berharap banyak kepadamu.
Ini dari abangmu, yang masih ingin menjadi peluru bagi bedil hidupnya sendiri: melesat tak tentu arah, tak tentu makna.
Suatu hari nanti aku pulang, kita selesaikan semua yang tak pernah benar-benar selesai itu...
Aku janji.
----

Saturday, November 15, 2003

Artis Kagetan, Kesendirian


Lima tahun lalu, seorang gadis yang menderita gangguan jiwa diperkosa oleh petugas Rumah Sakit Jiwa tempat dia dirawat, sampai hamil. Pihak rumah sakit menyatakan tidak bertanggung jawab dengan peristiwa yang menimpa gadis itu. Tidak ada yang mau mengakui anak yang dikandungnya. Beberapa bulan kemudian sang anak lahir, tapi ibu muda itu malah hilang tak ketahuan rimbanya.

Kasusnya terjadi di Solo, tahun 1997, dan sampai sekarang belum tersingkap tabir hitam yang menutupinya. Di tempat kerjaku, ada program yang khusus mengangkat kasus-kasus seperti ini. Namanya Lacak!, ditayangkan setiap Selasa malam jam 10. Konon, program ini dibuat untuk mengingatkan polisi atas utang-utang kasus di meja mereka.
Kali ini teman-teman di Lacak! mengangkat kasus Mulgiyanti, seorang pasien RSJ yang diperkosa --konon-- oleh lima petugas RSJ tempat dia dirawat. Naskahnya udah jadi, dan tadi sore pembuatan ilustrasinya. Pengambilan gambarnya di sebuah klinik di daerah Tegal Parang, yang di-set menjadi seperti bangsal RSJ.
Decil, reporter sekaligus penulis naskahnya meminta bantuanku untuk menjadi pemeran di salah satu adegan. Atas nama pertemanan, aku turuti permintaannya. Kesepakatan awal kami, aku akan berperan sebagai bapak si gadis--peran netral yang menurutku tidak akan membuat ibuku di kampung mencak-mencak ketika menontonnya. Aku pun sudah bersiap-siap dengan kemeja dan celana kain (padahal sebenarnya benda ini tak pernah ada dalam daftar inventaris barang pribadiku.)

Tapi sampai di lokasi, skenarionya ternyata sudah berubah, dan aku tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan sutradara. Jadinya aku harus memainkan peran yang tersisa, maka aku pun memerankan tukang sapu yang juga ikut memerkosa Mulgi-- yang diperankan Santi (Aku lihat Santi juga agak kepayahan dengan beberapa kali adegan meronta-ronta!)
Satu dari lima pemerkosa, dan aku berdiri paling depan!
Ampun! Hancur sudah citra santri nan alim yang selama ini kupertahankan. :D

(Tonton program Lacak! dua minggu depan, ada pemerkosa tinggi besar berbaju kotak-kotak paling depan, itulah aku! Oh ya, untuk Lacak! minggu depan ini kayaknya wajahku juga nongol sekelebatan sebagai penemu mayat di WC bioskop.)

Pukul delapan malam, shooting yang melelahkan itu baru berakhir. Tak terbayangkan bagaimana kalau menjadi artis beneran ya? Beruntung, setelah itu kami semua ditaktir makan di Spicy Kitchen, sehingga rasa lelah dan lapar yang tertahan sejak buka tadi terbungkam sudah.

----

Malam ini ada email dari seorang teman, menanyakan apa aku masih ingin terus menjadi backpacker. Sekalian dia merekomendasikan website yang katanya berisi info-info bacpacking. Bagi kalian yang punya minat sama, coba saja berkunjung ke bootsnall dan lonelyplanet.

Tanpa bermaksud cengeng, di email itu dia juga cerita tentang kesendirian, tulisnya: "...dulu kau pernah bilang kita gak boleh takut sendiri, karena pada akhirnya kita bakalan sendiri...--ingat ceritamu tentang pohon?-- Tapi kaya'nya saya belum bisa seperti itu. Yang saya tahu, dengan bertambahnya usiaku... teman adalah hartaku yang paling berharga..."

Namanya Nina, aku biasa memanggilnya Nong. Seorang gadis pecinta alam dan petualang. Pekerjaannya menjelajahi gunung dan gua bawah tanah membuat kuliahnya belum juga menemui titik finish sampai saat ini. Pertemanan baginya adalah harga mutlak. Begitu pun kepadaku, sebelum pada akhirnya aku berbuat kesalahan dan merusak semuanya.

Dia selalu temanku, dan sudah seperti adikku sendiri. Aku rasa, siapa pun yang telah mengalami kehidupan sepertinya, pasti akan sangat menghargai pertemanan. Dalam suatu ekspedisi penelusuran gua, dia dan satu timnya terjebak di kedalaman sekitar 60 meter di bawah tanah, dengan seorang teman yang patah tulang lehernya.
Seharian mereka berjuang untuk naik ke atas, tanpa seorang pun ditinggalkan. Hanya pertemanan yang bisa membuat mereka kembali ke permukaan. Itulah mengapa dia sangat menjunjung tinggi kata itu.
(Backpacker's Rules No. 6: Jangan pernah meninggalkan teman, hanya karena dia tak mampu mengikuti kekuatan langkahmu!)

Nong, tahukah kamu kalau aku ngomong begitu karena sebenarnya aku sendiri takut, takut pada kesendirian itu. Padahal ini harga yang harus kubayar sebagai seorang pejalan! Tapi makasih banyak sudah mengingatkanku!

...
Hari ini aku juga mesti ngucapin makasih banyak buat Lies yang memberiku sebuah buku bagus "Iltizam, Membangun Komitmen Seorang Muslim". Hadiah ulang tahun, katanya.
Makasih, semoga terlindungi kalian semua!

Arus Mudik


Berbeda dengan Sabtu yang biasa, kantor ramai sekali kali ini. Ada yang sudah siap dengan traveling bag, lengkap dengan kacamata hitam model matrix, ciri-ciri standar orang yang mau pergi jauh. Teman-teman mengerubuti seorang bocah di gendongannya Fitri. Lucu sekali, seperti bule. Anaknya Fahrul ternyata. Fahrul yang akrab dipanggil "ayah" ini rupanya membawa putranya untuk melepas keberangkatannya.

Hari ini kru liputan "Pulang Kampung" diberangkatkan ke lokasi tugas masing-masing. Sekitar 28 orang akan disebar di beberapa titik penting arus mudik. Yang aku tahu pasti di Nagrek dan Palimanan akan dijadikan lokasi live reporting, ditambah lokasi lain yang disesuaikan kemudian.
19 hari di lapangan, pasti akan sangat melelahkan. Lupakan angan-angan berlebaran di rumah. Nggak ada cerita! Sampai H plus 10, mereka masih akan di sana.

Bila suatu hari kau melewati jalur arus mudik, dan kau lihat sekelompok orang sibuk menggotong kamera dan memegang mike seperti berbicara entah kepada siapa, jangan ragu-ragu, beri sapa dan sedikit senyum kepada mereka. Bisa jadi dia temanku.

Friday, November 14, 2003

Kenapa Aku Ini?


Terbangun dengan kepala pusing dan pandangan berputar. Masih di duniakah ini?
Aku mereka-reka, mencoba mengingat apa-apa yang kumakan saat sahur tadi. Hanya teringat sekaleng pocari sweat yang kalengnya masih berdiri tegak di samping ranjangku.
Di mesjid samping rumah muadzin mulai memanggil-mangil. Ya Tuhan, perlukah kutunda shalat Jumat hanya karena penglihatan berotasi seperti ini?
Lantas kupaksakan ke kamar mandi, berharap setimba dua timba air bisa mendinginkan kepalaku, dan menghentikan sel-sel sakit kepala di dalamnya berontak.
Agak mendingan, tapi masih susah untuk berdiri tegak.
...
Pernah terjadi seperti ini, tiga atau empat tahun lalu. Tensiku turun sampai 90, dan kolaps di ruang himpunan. Tapi itu saat linting-linting haram dan benda-benda ajaib masih akrab denganku.
Kenapa aku ini?
Atau inikah efek dosa yang tak terampunkan itu, Tuhan?

Thursday, November 13, 2003

13 November

catatan kecil pergantian hari:
tak ada tanda, hanya kupon makan bertanggal sama.
karena telah kuabaikan semua hitungan matematis dalam usia.
semakin banyak batu pal, dan hidup tak juga bergerak lurus

ucapmu;
selamat, untuk seperempat abad mengotori dunia!


--13November2003 pagi, dinihari--- teriring doa untuk para korban Semanggi, dan mereka yang pergi di hari yang sama.

Wednesday, November 12, 2003

Joe, Halaman Rawa, dan Blogger Kelas Sandal Jepit (part 2)


Joe juga yang menemani saat pertama kali aku terseok-seok di belantara Jakarta. Tak ada keluarga, kecuali saudara tiri ibuku yang tak sekali pun kami pernah bertemu. Atas bantuan seorang teman di Makassar dulu, akhirnya aku bisa bertemu dengan seorang abang yang mengizinkanku tinggal di kontrakannya. Aku tinggal menumpang di sebuah kamar seluas kamarku dulu waktu di Makassar, tapi dengan harga sewa yang kontras: 400 ribu sebulan. Sempat shock juga waktu tahu ini.
Betapa beda jauh dua tempat ini, padahal jaraknya hanya satu garis jam.
Sebenarnya, jIka bukan karena impian untuk menjadi jurnalis, aku mungkin sudah menolak tawaran untuk bekerja di salah satu TV swasta ini. Selalu terngiang kata seorang temanku, Jakarta bukan tempat yang baik untuk hidup... hanya tempat untuk mencari uang.
Mungkin dia benar, tapi aku rasa dia bisa bilang begitu karena dia seorang commuter. Siang bekerja di Jakarta, dan malamnya sudah tidur dengan tenang tanpa terganggu polusi di sebuah kota penyangga di luar Jakarta.

Tapi mungkin ini sudah garis hidupku, dan harus kulakoni. Peraturan no.5 dalam Backpacker's Rules yang kuanut adalah "Hanya satu jalan yang tak bisa kita tempuh, hanya tepian langit!"
Maka aku pun memutuskan untuk berperang di sini, sampai batas kemampuan dan kaki tak lagi bisa melangkah!

Kemudian, bergabung dengan dunia baru yang penuh hingar bingar membuatku lumayan tertekan. Tapi sudahlah, itu cerita lalu. Memang butuh waktu lama untuk berdamai dengan kenyataan, dan butuh lebih lama lagi untuk berdamai dengan diri sendiri. Selama bekerja di sini, aku ingat sudah beberapa kali mengonsep surat pengunduran diri, yang --alhamdulillah-- sampai hari ini belum juga kusampaikan ke bagian persoanalia. Aku masih ingin bertahan di keriuhan ini, dengan harapan ini bisa jadi jalan bagiku menuju National Geographic atau Discovery Channel. Hehehehe. Yihaaaa!

Dan dalam rangka menghibur diri inilah aku kemudian tersesat ke dunia blog! Awalnya aku berinteraksi dengan internet hanya sebatas pemakaian awam. Hanya untuk riset melengkapi data-data beritaku. Itu artinya Google.com. Suatu ketika aku mencari data tambahan tentang Soe Hok Gie, dan oleh Google aku dibawa ke sebuah website bernama Grayarea punya Erly. Dan penemuan pertama itu sangat mencengangkanku, aku kagum betapa seorang bisa bebas menulis sesukanya di sebuah dunia tanpa batas, di ruang yang dia punya sendiri.
Lalu entah bagaimana awalnya, yang pasti atas bantuan Mbak Neenoy dan juga tutorial di blog Bang Enda, aku akhirnya bisa juga memiliki blog. Itulah Halaman Rawa ini. Meski kurang pede dengan tampilannya yang sangat sederhana, aku tetap setia mengisinya. Inilah tempat sampahku, tempat suara-suara perut mengalir tanpa sensor produser. Intinya, aku bahagia dengan keisengan ini.
Ah, aku akhirnya menjadi blogger. Berbulan-bulan kemudian, aku baru menemukan definisi yang tepat untuk blogger sepertiku. Kutemukan di blog-nya Balq, lalu kuinterpretasikan sendiri: Blogger Kelas Sandal Jepit. Itulah aku.
Tapi setidaknya untuk saat ini, blog ini telah menjadi katarsis terbaikku.

Tuesday, November 11, 2003

Joe, Halaman rawa, dan Blogger Kelas Sandal Jepit


Sejatinya aku tidak lagi punya banyak tempat untuk melarikan diri.
Sewaktu masih mahasiswa, hampir semua hal bisa menjadi katarsisku. Setiap kali merasa lelah atau muak pada sesuatu, selalu ada saja cara untuk kembali menjadi senang. Jika tidak melampiaskan kekesalanku pada Tom –notebook 486-ku--, aku mengajak Joe, berjalan-jalan kemana saja. Joe, ransel Eiger warna hitam dengan aksen hijau itu, sudah menemaniku sekian lama. Hampir lima tahun, sampai dia kupensiunkan belum lama ini. Sudah cukup tersiksa dia dengan beban-beban berat yang kusesakkan di tubuhnya.
Beberapa bulan lalu, aku baru sadar kalau Joe ternyata sudah cukup menderita. Bagian bawahnya sudah koyak akibat kebiasaanku menempatkannya sembarangan. Talinya sedikit lagi putus, dan sudah kusam kena sinar matahari.
Sekarang aku sudah punya ransel baru lagi, kubeli di koperasi kantor dengan sistem potong gaji. Dan Joe akhirnya mengisi salah satu sekat di lemariku, dalam purnabakti.
Dan setiap kali rasa lelah itu datang, aku selalu teringat pada Joe. Pada caranya menemaniku selama ini.

Aku seorang pejalan, dan pergi kemana pun aku suka. Kecuali ke neraka.
Menyusuri jalan raya adalah kesukaanku. Jika berada di kota lain, aku selalu menyempatkan diri menyusuri jalan rayanya, jalan protokolnya. Ada atau tak ada billboard tetap saja menyenangkan bagiku.
Di Makassar, kota di mana aku tertanam sekian lama karena keharusan menyelesaikan kuliah, aku juga punya jalur favorit. Cendrawasih-Karebosi lewat pantai Losari! Kalian yang pernah ke sana atau tinggal di sana pasti tahu jalur ini.
Dari Gramedia Mall Ratu Indah ke Cendrawasih lewat jalan Merpati atau Mappanyukki, terus lewat Haji Bau akan tembus ke Jalan Penghibur. Di Jalan Penghibur ini biasanya aku akan tinggal agak lama, karena jika senja tiba, matahari yang tenggelam di sana akan tampak sangat indah. Dari Jalan Penghibur lewat Ahmad Yani, maka sampailah aku di Karebosi.
Di Karebosi biasanya aku juga berlama-lama. Selalu ramai di sana, apalagi jika keseblasan PSM sedang latihan, pasti banyak penonton. Kalau mau pulang, tinggal jalan sedikit lagi dari Karebosi ke Sentral, naik angkot jurusan Sentral-Daya, pasti lewat Tamalanrea. Atau jalan sedikit ke Mesjid Raya dan dari sana naik angkot 05 ke Kampus Unhas.

Dulu aku kos dekat kampus, murah sekali, 400 ribu setahun. Di sana menyenangkan belaka, kecuali ada beberapa teman yang angin-anginan. Sebelum aku di sana, nama tempat kos-ku itu HR. Konon singkatan Haji Ramli, nama yang punya kos. Tapi pas aku dan abangku datang ke sana, namanya kami ganti Halaman Rawa, dengan singkatan tetap HR. Sejarah nama Halaman Rawa ini lumayan panjang. Pertama kali di Makassar, aku tinggal menumpang di rumah seorang kawan abangku. Rumah kosong di belakang markas cavaleri. Jika siang selalu kedengaran suara tembakan yang membuat susah tidur.
Rumah kosong ini berada di tengah rawa-rawa, kemana kaki melangkah, yang ada rawa semata-mata. Satu-satunya akses menuju ke sana adalah meniti jembatan berupa batang bambu yang diikat.
Sebenarnya rumah ini sangat ideal untuk ditempati belajar. Karena mencapainya susah, maka kita tidak akan tergoda untuk kelayapan kemana-mana. Masalahnya, jika malam tiba, sering kursi di teras bergeser sendiri, atau seperti ada orang yang menuang air di dapur padahal tidak ada siapa-siapa, atau kaca nako yang berderit-derit.
Karena alasan inilah kami meninggalkan tempat itu.
Tapi semangat Halaman Rawa tetap terbawa sampai jauh.

(bersambung)

Monday, November 10, 2003

Satu Hari Belajar Sejarah


"Sebulan lagi saya sudah 94 tahun, telinga saya sudah tidak begitu mendengar. Kalau kamu bicara tolong dikeraskan..."
Saya menggeser kepala lebih dekat kepadanya. "Kalo seperti ini Bapak bisa dengar?"
"Iya, bisa..."
...
Saya sodorkan daftar pertanyaan. Bapak itu menggeleng.
"Saya sudah tidak bisa melihat tulisan sekecil itu..."
Saya tulis sesuatu di atas kertas dengan hurup agak besar, dan bapak itu mengangguk, "GAM..."

Tak lama, Bang Buyung dan Cahyo sudah mengeset kamera dan mengatur ruangan. Beberapa kali kami harus menggeser kursi rodanya untuk mendapatkan cahaya paling bagus yang menerpa wajahnya. Demi menghormati keterbatasan beliau, kami sepakat untuk mewawancarainya di kamar saja, di dekat tempat tidur yang telah menjadi tahtanya bertahun-tahun.
"Sudah bertahun-tahun saya minum obat jantung. Dan saya lupa kalau hari ini hari Senin. Hari Senin dan Kamis pengaruh obat jantung itu bekerja, jadi tiap lima belas menit saya harus ke kamar mandi..."
Suster yang selama ini merawatnya menjelaskan nama obat itu Lazic (atau kedengaran seperti itu...) konon efeknya membuat pembuangan kemih agak tidak terkontrol.
...
Nur El Ibrahimi, satu-satunya saksi sejarah yang masih bisa ditemui berkaitan peristiwa pemberontakan DI/TII Daud Beureuh. Dia yang berhasil membujuk Daud Beureuh untuk turun gunung dan menghentikan gerilya. Kami pun datang untuk kisah tentang itu. Dia menantu Tengku Daud Beureuh, dan tahu banyak tentang Daud dan DI/TII.

Pak Nur bercerita dengan suaranya yang terbata-bata tapi masih jelas kedengaran. Pak Nur bercerita tentang kekecewaan rakyat Aceh terhadap pemerintah. Tentang gaji pejabat di zaman Soekarno yang dibayar dengan dolar Aceh. Tentang pesawat pertama Indonesia yang disumbangkan oleh rakyat Aceh.
"Abo Daud menyumbang 1300 dolar kepada pemerintah untuk membeli pesawat Seulawah itu... Itu untuk dua pesawat terbang."
Tapi Pak Nur mengaku tidak tahu mengapa uang yang dikumpulkan dari sumbangan rakyat Aceh itu hanya dibelikan satu pesawat, sementara satu pesawat lagi tak pernah tampak mengudara.
...
Lalu matanya menerawang, seperti mengenang.
"Hasan Tiro itu murid saya di madrasah. Saya lihat dia memang punya bakat menjadi pemimpin. Tidak ada hubungan apa-apa GAM dengan Daud Beureuh. Daud Beureuh bercita-cita negara Islam. GAM itu sekuler. Hasan Tiro itu dihormati karena dia cucunya Tengku Cik Di Tiro..."
...
Ketika kamera sudah dimatikan, dan kami mengobrol santai, Pak Nur menarik saya lebih mendekat.
"Kamu harus tahu ini, karena ini tidak banyak yang tahu..." Lalu Pak Nur bercerita tentang sebuah peristiwa penculikan oleh tentara. Tentang jarum suntik bius yang ditinggalkan patah di lengan Daud Beureuh, dan mengalirkan darahnya.
...
"Kamu sudah menulis namamu di buku itu?" Pak Nur menunjuk sebuah buku hardcover warna coklat, tempat saya menulis nama kami tadi. Di buku itu, di baris di atas nama kami, ada lima nama wartawan Tempo yang rupanya juga telah mengunjungi beliau sebelum kami.
"Saya akan mengundang kalian untuk makan-makan. Kalian pernah coba masakan Aceh?"

----

Jam tiga lewat kami meninggalkan rumah Pak Nur di bilangan Tebet. Kami masih ada janji untuk bertemu dengan Pak Murad Aidit, adik DN. Aidit, tokoh PKI yang dihukum mati itu. Sebuah hutang harus kami lunasi hari ini juga.
Siang tadi kami sudah bertandang ke Pak Ventje Sumual, pemimpin pemberontakan PRRI/Permesta di tahun 1950-an. Sama menariknya dengan pertemuan dengan Pak Nur El Ibrahimi. Banyak pelajaran kami dapatkan hari ini dari para pelaku sejarah itu. Kesadaran bahwa sejarah bertelikung di sekitar kami. Dan selalu milik orang-orang yang menang.

Sejarah yang menyisakan kepahitan bagi orang-orang tertindas, yang jika tidak membatu menjadi dendam maka akan berbuah kebahagiaan.
Saya bisa merasakan itu melalui senyum berbinar seorang ibu di menjelang maghrib tadi. Ibu Murad yang dengan bahagia mengabarkan anaknya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan finansial otomotif di Sudirman.
Saya dan Bang Buyung senang sekali mendengar kabar itu. Kami tahu, di Indonesia pernah sangat tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan --di mana pun-- jika wajah dan KTP tercoreng tanda hitam.

(Kawan, entah mengapa hari ini saya merasa lelah sekali...)

Sunday, November 09, 2003

Istana Pasir


Jika kamu tinggal dekat laut, kamu mungkin pernah bermain di pantai dan membuat istana pasir.
Coba bayangkan bagaimana perasaanmu jika istana pasir yang sudah kamu buat setinggi kepalamu itu tiba-tiba dirubuhkan orang?
Bagaimana perasaanmu jika apa yang telah setengah mati kau usahakan itu tiba-tiba hancur tak berbentuk, dan itu oleh tangan orang lain?

Saturday, November 08, 2003

Tikus


Tadi pagi seekor tikus kecil memberiku pekerjaan ekstra. Tikus kecil yang lagi lucu-lucunya.
Sudah beberapa hari ini dia terjebak di kamarku, bersembunyi di bawah lemari pakaian. Entah bagaimana dia bisa masuk, karena rasanya tak ada satu pun celah yang bisa dilewatinya.
Kadang-kadang jika pulang tengah malam, sering kupergoki dia bermain-main di sela-sela koleksi kaleng pocari-ku, kemudian berlari panik menabrak apa saja saat aku menyalakan lampu.

Aku sebenarnya sudah berusaha untuk mengeluarkannya dari situ, dengan jalan damai. Pintu sengaja kubuka lebar-lebar, siapa tau dia tergoda untuk keluar dengan baik-baik. Tapi dia tetap saja membandel. Terakhir aku pakai sedikit cara fasis, menyemprotkan obat nyamuk dengan harapan dia teler dan angkat tangan. Tapi dasar tikus gak sekolah! Tak ada bendera putih tanda menyerah.

Mau tidak mau aku terpaksa membongkar lemari, karena itulah satu-satunya tempat persembunyiannya yang tak terpantau. Setelah bersusah payah memindahkan pakaian dan buku-buku (karena tak mungkin membalik lemari dalam keadaan berisi), tikus mungil itu ternyata sudah tak di situ.
Putus asa aku mulai memeriksa apa saja yang mungkin menjadi tempat sembunyinya. Tak lama kudapati dia meringkuk di sudut kamar, di balik kardus kipas angin yang biasa kujadikan tempat sepatu.
Lalu dengan sedikit gerakan shaolin tingkat dasar, aku mengibaskan sapu di tanganku.
Wuiizzz...
Sempat kutangkap ekspresi ketakutan di wajahnya saat dia meluncur tak terkendali melewati pintu. Menabrak tembok sebentar, lalu berlari entah kemana.
Puih! Akhirnya berhasil juga. Selamat jalan, Kawan. Selamat bertemu keluargamu kembali, mereka pasti merindukanmu...

...

Menjelang siang aku baru bangun setelah tidur sekitar empat jam. Pekerjaan membereskan kamar yang porak poranda lumayan menguras tenaga. Apalagi ini bulan puasa, dan hanya mengandalkan sahur sebutir protecal subuh tadi.
Cuci muka sebentar, sekalian ngambil air wudhu buat shalat Zhuhur. Saat berjongkok dekat kran, mataku menangkap sesosok mahluk mungil terkapar di dasar selokan. Tubuhnya basah dan kotor bercampur dengan busa sabun sisa cucian, tak bergerak. Aku mengenalinya, dia tikus yang "berperang" denganku tadi pagi.

Tapi kenapa dia bisa mati?
Padahal aku sama sekali tak berniat untuk membunuhnya, aku hanya ingin kami tidak saling mengganggu. Maafkan... sama sekali gak ada niat untuk menghilangkan nyawamu, Kawan....

Friday, November 07, 2003

Pemberontakan, Dalam Diri Sendiri

Kisah-kisah pemberontakan itu sudah dibagi setiap segmen. Sejarah Indonesia adalah rentetan panjang perlawanan, wujud ketidakpuasan yang mendarah daging. Aceh, Papua, Maluku, menyimpan bara. Tinggal menunggu picu ditarik dan berakhirlah riwayat sebuah negara kesatuan.
...
Tapi mataku lelah, padahal masih ada satu segmen lagi. Kisah Timor Leste ini rasanya makin membuat retinaku melemah. Sebuah kota dibombardir dengan bom napalm, demi kilang minyak lepas pantai, juga kayu cendana. Semua orang tahu, kroni siapa yang punya bisnis di sana.
Ada anak-anak muda yang diberondong senapan otomotis ketika berpawai sehabis misa. Di Santa Cruz, 12 November 1991. Ratusan orang mati, yang tidak mati kepalanya dipukul popor senjata, atau dipaksa menelan rosario. Tapi Indonesia bungkam, padahal beritanya hilir mudik di CNN.
Rentetanpanjangkejahatankemanusiaan.Sepertikeretaapi.
Seorang pejabat mengaku di koran asing, sepanjang perang Timor 50.000 sampai 80.000 nyawa melayang. Bayangkan! 80.000 nyawa!
Bagaimana orang tidak berontak? Sementara statistik jumlah penduduk semakin menurun entah ke mana.
...
Di Langkat, ratusan orang tersapu banjir bandang. Bencana datang tiba-tiba, tanpa permisi.
Hari ini tiga orang mati karena rebutan saat antri zakat di Pasar Minggu. Mereka mati. Mereka mati karena... miskin.
Dan kita di sini, masih bisa main komputer (punya kantor).

----

Ah, semakin lelah mata ini. Pikiran ini juga. Tak bisa lagi mikir. Hampir dua minggu ini kena insomnia, masuk kantor siangan melulu. Jadi gak enak sama Bang Buyung...
Sori, Bang. Sama sekali di luar kesengajaan. Abang boleh cek, weker dan alarm di kamarku sudah distel sedemikian rupa sehingga disiplin membangunkanku setiap waktu ideal bangun pagi.
Dan mereka rajin melaksanakan tugasnya, tapi aku yang tidak disiplin.
Tidak bisa berontak melawan kantuk yang selalu telat menyerang di pagi hari!
Jika tidak bisa memberontak melawan diri sendiri, jangan pernah mimpi menjadi kombatan, Chan!

----

ps.
untuk Bunda:
Bunda, engkau tahu bahwa ini pilihanku. Jangan dengar jika kawan mengeluh tentang aku yang kehilangan idealisme. Tidak hilang, Bunda. Hanya moksa, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali. Ini titik krusial yang harus kujalani: tetap di sini dan gelisah, atau pulang dan memenuhi keinginanmu, mendaftar menjadi PNS (ini juga belum tentu bisa. Bunda tahu kan seperti apa bobroknya birokrasi kita. Padahal kita tak punya koneksi.) .
Di sini, seorang abang mengajariku, melalui cerita pengalamannya. Katanya dia lebih senang menjadi buruh yang berkeringat, mengabdi pada industri, ketimbang bersembunyi dengan wajah mulus di balik topeng idealisme...
Orang berkeringat niscaya akan lebih dihargai Allah.
Thanks, Bang!

Thursday, November 06, 2003

Homo Homini Lupus


...sekedar mengingat, bahwa suatu ketika manusia bisa jadi serigala bagi sesamanya...
Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga terpenjara segala kebinatangan kita...

note. Itu saudara-saudara kita juga, di Indonesia, negeri yang kabarnya ramah tamah itu.

Tuesday, November 04, 2003

Siraman Hujan


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dan Kami turunkan dari awan-awan itu air yang tercurah (hujan) supaya Kami keluarkan (tumbuhan) dengan biji-bijian dan tanam-tanaman dan kebun-kebun yang berlapis-lapis [ 78 : 14-16 ]

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi yang menciptakan, lalu membuatnya sempurna yang menentukan, lalu memberi petunjuk yang menumbuhkan rumput-rumputan lalu Dia menjadikan kering yang berubah (warnanya). Kami akan membacakan kepadamu (Al Quran) maka engkau tidak akan lupa
melainkan jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang nyata dan apa yang tersembunyi
dan Kami akan memudahkanmu kepada (agama) yang mudah maka berilah peringatan karena peringatan itu memberi manfaat orang-orang yang takut (kepada) Allah, akan menerima peringatan dan akan menjauhi (peringatan) itu orang-orang yang celaka (yaitu) orang yang akan memasuki neraka yang besar
kemudian didalamnya dia tidak mati dan tidak (pula) hidup sungguh beruntunglah orang yang mensucikan dirinya dan yang mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan di dunia dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal [ 87 : 1-17 ]


"Subhaanallaah wal-hamdulillaah wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar"

Sunday, November 02, 2003

Tak Perlu Terlalu Resah, Anak Muda, Hidup Tak Sekejam yang Kau Bayangkan...


"Saya udah coba nahan, udah coba buat ngertiin semuanya. Tapi tetap aja gak bisa. Kayanya saya mesti bilang ke kamu, kalo itu nyakitin saya. Saya mau nangis kalo ingat itu. Kemarin itu I feel nothing karena tau kamu dan dia broke up just bcoz one of you leaving, dan gak ada bedanya dengan kita sekarang. I feel like a fool karena tau kamu bisa menemukan orang lain semudah kamu menemukan saya..."

----

Pukul setengah tiga. Miing dkk masih ngoceh di TV, berusaha membangkitkan semangat orang-orang di dini hari ini. Pagi ini aku sahur sendiri, Ewin belum balik dari Bandung. Di luar masih lengang saat pintu pagar kubuka. Tidak kugembok, sering susah ngebukanya lagi. Jalan dengan hawa dingin menusuk, teringat lagi pada kosan-ku di Makassar dulu. Lagi bikin apa ya Uce sekarang? Dua hari ini kutelpon hp-nya gak pernah aktif.
Soto Ibu Dian masih dua ribu lima ratus seporsi, Ce? Trafo ketel nangis-nya masih bagus gak? Kalo nggak, singkirin aja dulu. Ntar balik aku beresin. Jangan dibiarin di situ saja, keiris kaki orang. Hati-hati, nanti kesetrum kamu!

----

Becanda kalian gak bagus. Bukan apa-apa, itu bisa jadi doa! Asal kalian tau, aku gak suka itu!

----

Ngapain dia makan di atas motor itu. Warteg kan masih sepi, belum banyak orang yang sahur.
Lho motornya tiga roda toh?
Oh, maaf, Mas. Kakinya invalid ternyata, dua-duanya kecil.
Maaf, Mas...
Maaf...

----

Dini hari, mesjid itu sudah terang. Bocah-bocah berlarian di dalamnya. Sebentar lagi mereka akan shalat lail dan ngaji. Sepuluh tahun lagi sebagian dari mereka akan jadi takmir mesjid. Beberapa tahunnya lagi, sebagian dari mereka mungkin saja akan ditangkap karena dituduh teroris!

----

Apa-apaan kamu ini. Mau sok jagoan ya? Mau jadi pahlawan kamu?
Jangan di sini. Kita tak butuh superman!

PSK Berangkat Kerja


Baru masuk kantor ba'da Zhuhur. Ngantuk banget. Mestinya hari Minggu ini dipake buat istirahat, tapi mengingat naskah dan risetan yang belum selesai, aku mesti bela-belain masuk kantor. Untung dari kosan ke kantor gak jauh, kira-kira sepeminuman teh berjalan kaki.
Tadi ada grafiti baru lagi ditembok gang yang biasa kulewati. Bikin aku jadi ketawa sendiri, sampai bapak-bapak yang lagi nongkrong di depan kios dagangannya jadi melongo melihatku. Tadi malam itu tulisan belum ada. Ditulis gede dengan pilox merah: PSK BERANGKAT KERJA.
Ada-ada saja!
Jadi ingat Prof. Halide. Beliau ini seorang guru besar sekaligus ulama di kampusku dulu. Suatu kali dia pernah terlibat dalam polemik karena statemennya tentang pelacur intelektual.
Kalo gak salah ingat, waktu itu Prof. Halide menulis tentang kaum intelektual (termasuk dosen-dosen di kampus) yang melacurkan dirinya pada kekuasaan dan proyek. Terang saja banyak dosen dan mereka yang menyebut dirinya intelek jadi kebakaran jenggot. Padahal sudah bukan rahasia lagi kalo memang banyak dosen yang gak pernah masuk ngajar karena lebih sibuk ngobyek proyek atau jadi pengurus parpol!
Tapi dipikir-pikir memang betul juga, kadang atas nama kekuasaan dan uang, orang mau saja mengorbankan idealisme dan tanggung jawabnya.
Jangan-jangan --meski sama sekali gak intelek-- aku juga tanpa sadar telah melakukan pelacuran-pelacuran kecil...
(Hehehe. Hari ini, PSK (Pekerja Seks Komersial) ini telat masuk kantor euy!)

Sampai di kantor, melongok sebentar ke lantai 3A, liat acara Qura'ni Kids-nya Majelis Ta'lim Trans. Turun ke lantai news, anak-anak pada senyum-senyum bertanduk ke aku. Apa lagi nih? Hakun nunjukin sesuatu yang ditempel di dinding. Gambar seorang pilot lengkap dengan helm dan pakaian terbangnya. Di atasnya ada tulisan: Pengumuman, korban yang selamat dalam kecelakaan helikopter di Atang Senjana.
Tapi kok latar belakangnya bukan helikopter, tapi pesawat jet tempur? Lho, kok mukanya itu mirip aku sih?
Anjrit! Sialan! (sori... ini kan bulan puasa ya, gak boleh mengumpat...)
Ini pasti kerjaannya si Indra Model. Tadi malam dia memang nunjukin gambar montase itu ke aku, tapi aku gak nyangka kalo dia tega nempel benda itu di seantero kantor. Sampe bela-belain di fotokopi segala. Awas lo, Ndra. One day at my home, aku akan bikin pembalasan yang lebih spektakuler. Hehehehe.
...
Woah! Kayanya hari ini gak lebih progres dibanding kemarin. Risetku belum maju-maju. Susah juga menghubungkan benang-benang masa lalu itu menjadi satu jalinan cerita yang menarik. Padahal aku sudah mati-matian melototin dokumenter di National Geographic dan Discovery Channel buat referensi. Eh, di MTV juga ada yang bagus tuh, VH1, dokumenter tentang orang-orang musik, biasanya sekitar tengah malam gitu.

Kemarin sebenarnya jadwalnya mau ke rumah Pramudya Ananta Toer dan Murad Aidit sama Buyung dan Cahyo, buat silaturrahmi sekaligus ngembaliin buku, tapi kayanya Buyung lagi kecapean jadi terpaksa ditunda dulu. Hari ini sepertinya mesti nunggu komando dulu.

Saturday, November 01, 2003

Bendera-Bendera


Gambar bendera ini kutemukan di sebuah situs asing di internet. Dengan keterangan yang terkesan sangat berbahaya dan separatis. Mau ketawa rasanya, bendera-bendera itu adalah hasil energi kreatif yang berlebih dari teman-teman mahasiswa di Makassar.
Beberapa kali aku sempat ikut demo waktu tuntutan Sulawesi merdeka itu. Demo itu buntut ketidakpuasan mereka terhadap Jakarta yang dianggap tidak adil. Waktu itu memang sempat agak kacau situasinya. Tapi menurutku mereka tidak pernah betul-betul berniat untuk melakukan tindakan separatis sejauh itu. Yang ada hanya kumpulan anak-anak muda yang semangatnya lagi tumpah ruah, dan kebetulan menemukan isu chauvinis yang saat itu lagi gema-gemanya.

Pernah ada teman mahasiswa yang berorasi, "Jawa hanya bisa mengeksploitasi daerah. Kalimantan digunduli, Sulawesi dibabat, Irian dikuras. Tapi kita tetap miskin dan mereka makmur belaka."
Dari kalimat-kalimat seperti inilah ide untuk memisahkan diri dari NKRI itu mulai bermunculan seperti busa sabun yang diaduk-aduk.
"Biar orang di Jawa miskin dan kelaparan!" kata mereka.

Sejatinya, demo-demo itu tak butuh darurat militer untuk membubarkan mereka. Ya karena mereka memang tidak pernah berniat untuk benar-benar merdeka. Mungkin ingin bermain-main saja. Menyalurkan hasrat terpendam atau sekadar ingin terbebas dari pengapnya ruang kuliah barang sebentar. Makanya tidak heran waktu demo itu dulu, bisa ada lebih dari lima bendera Negara Sulawesi Merdeka yang berkibar di tengah-tengah barisan, tergantung BEM-nya.
...
Eniwei, Indonesia sesungguhnya memang rentan separatisme. Sekarang aku lagi mengerjakan program Hitam Putih: Pemberontakan Dari Masa ke Masa, rencananya bakal tayang pas ulang tahun GAM Desember nanti. Dari situ aku baru sadar bahwa sejak proklamasi kemerdekaan, sejarah pemberontakan di Indonesia ternyata lumayan panjang juga ceritanya. DI/TII, PRRI/Permesta, RMS, OPM, GAM, Timtim, dan beberapa pemberontakan kecil yang ditulis gak sampai satu paragrap dalam buku-buku SD.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa bisa begitu banyak?
Jawaban dengan logika pentium 1-ku: jika ada yang mencoba melawan itu pasti karena ia terzalimi, dan jika ada yang terzalimi berarti ada yang telah berbuat tidak adil.

Timor Leste salah satu contoh yang berhasil "memperjuangkan" nasibnya. Melalui proses panjang, mereka berhasil melawan hegemoni sebuah negara dan sukses membebaskan diri. Tapi mengingat ribuan nyawa prajurit yang melayang ketika merebut dan mempertahankannya dulu, ironis juga jadinya. Satu yang pasti, pengorbanan mereka tidak sia-sia meski yang telah mereka perjuangkan itu telah tak bisa lagi dijamah dan dirasa. Setidaknya itu akan menjadi kitab bagi pemimpin selanjutnya untuk belajar menghargai kehidupan, betapa pun sepelenya.
...
Ah, bergaul dengan file-file pemberontakan ini, membuatku bisa sedikit memahami isi kepala para tokohnya. Di bangku sekolah, sejarah hanya milik orang yang menang saja. Mereka yang terpuruk dipenjara atau mati ditumpas hanya jadi antagonis di novel-novel depdikbud itu. Dan di sini, aku dipaksa melepas kacamata kuda dan melihat dengan view yang berbeda. SM. Kartosuwiryo, Andi Azis, Kahar Muzakkar, HNV Sumual, Hasan Tiro, Xanana, adalah manusia juga. Sama saja dengan kita, bedanya mereka berani melawan!
Hidup Indonesia!