tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, October 24, 2003

Rasanya Ingin Menangis Setiap Menjelang Ramadhan Tiba

Setiap menjelang Ramadhan seperti saat ini, aku selalu teringat ketika masih kecil dulu. Ibu guru di madrasahku sering bercerita tentang keutamaan bulan itu. Yang paling sering disebut-sebutnya adalah Lailatul Qadar. Malam seribu bulan katanya.
Pikiran kanak-kanakku pun selalu membayangkan jika akan datang suatu malam di mana langit begitu terang, dan jari tak sanggup menghitung bulatan bulan di langit…
Malam yang istimewa. Dan aku selalu setia menunggunya.
Tapi hingga malam lebaran tiba, tak kunjung kutemui malam yang serupa itu.
Tahun depannya lagi pun akan seperti itu, selalu kutunggu malam yang didongengkan ibu guru itu. Dan tak pernah betul-betul ada.
Tapi tetap saja aku terobsesi.

Bertahun-tahun setelahnya. Aku mulai lupa pada obsesi dan harapan kanak-kanak itu. Setiap menjelang Ramadhan, rasanya tak ada lagi yang berubah. Tak ada lagi desir-desir halus itu setiap mendengar orang tilawah menjelang senja. Semuanya datar-datar saja. Seperti bulan Januari ke Februari. Seperti bulan Maret ke April. Hanya bertambah umur saja. Kalaupun ada yang beda, hanya bahwa aku harus sedikit menyisihkan gaji untuk mudik ke kampung, jika izin cutiku dikabulkan perusahaan. Bahwa masih ada dua wajah renta yang menungguku di sana, penuh harap.

Tapi Ramadhan ini, apakah aku benar-benar merindukannya?

Bukankah jika dalam keadaan puasa, pekerjaanku akan semakin berat. Bayangkan, kehausan mengejar narasumber, atau di bawah terik matahari siang memantau arus mudik --dan kita sendiri tak punya kesempatan untuk itu. Lantas apa yang istimewa dengan keadaan yang menyiksa seperti itu?

Ramadhan, benarkah aku rindu padamu?

Tapi, ketakutan akan kehilangan kenangan memaksaku untuk menghadirkan kembali ingatan itu. Kesibukan dan rutinitas seringkali memang membuat kita lupa. Keinginan menjadi kaya, keinginan untuk berprestasi, atau sekedar keinginan mendapat tepukan di pundak dari atasan kita, bisa jadi telah menjadi penjara. Maka tak ada lagi yang lebih berarti selain menjadi lebih. Lebih apa saja.
Dan entah kenapa, tiba-tiba saja aku rindu pada "dongeng" ibu guruku itu. Dongeng tentang Lailatul Qadar itu.

Hari ini, tinggal beberapa hari lagi Ramadhan tiba. Mengingat itu darahku berdesir. Menuju ke sana, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Pulang dari sini, bisa saja kita keserempet bus lalu nyawa melayang. Atau terkena demam berdarah dan meninggal empat hari kemudian karena terlambat tertolong. Tertabrak kereta di persimpangan sebelum sampai ke rumah. Ditusuk perampok di bus kota. Jatuh di sumur...
Allah, izinkanlah aku untuk bertemu Ramadhan tahun ini. Izinkanlah...
Aku rindu pada malam seribu bulan itu, sekalipun jari mungilku tak pernah berhasil menghitungnya dengan benar. Karena langit-Mu itu maha luas, ya Allah. Seperti ampunan-Mu.
Beri kesempatan, ya Allah, untuk berkumpul dengan hamba-hamba-Mu yang shaleh, dan memperbaharui imanku yang semakin berkarat ini.

Beri kesempatan, ya Allah.
Beri kesempatan...


"Ijlis binaa nu'min saah"
--Duduklah bersama kami, kita perbaharui iman sejenak...-----

--tulisan sederhana ini kubuat untuk buletin Jum'at Majlis Ta'lim kantorku... untuk mengingatkanku. Buat semua teman-teman, di dunia nyata maupun maya ini, saya minta maaf kalo saya pernah membuat kalian marah, jengkel, atau tersinggung. Mungkin ada yang merasa gak enak dengan coretan2 saya ini, merasa terzalimi. Maafkanlah... Yang pasti, saya tidak pernah benar-benar sengaja melakukan itu...