tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, October 15, 2003

Negara Banci!


Biar saja dituduh subversif, tapi aku mau bilang: Indonesia negara banci! Tidak bisa melindungi warga negaranya.
Aku sama sekali tidak sepakat dengan terorisme, tapi melihat Al-Ghozi ditembak --entah dia teroris atau bukan-- rasanya hilang kebanggaanku sebagai warga negara. Malam ini, jenazah Al-Ghozi tiba di Cengkareng dari Manila, tapi atas pesanan seseorang, peristiwa ini dirahasiakan dan tak boleh diliput oleh pers. Beruntung aku dan Yudhi bisa menyusup masuk ke gudang kargo JAS setelah berkali-kali diusir, dan terpaksa melakukan sedikit tindakan licik.
Di situ aku melihat peti jenazah Al-Ghozi dicongkel petugas dan diperiksa oleh orang-orang dari Pusiden. Yudhi mengambil gambar dari bawah meja. Tapi kami digelandang keluar setelah petugas memergoki Yudhi menyalakan kamera. Kalo menurut perkiraanku sih kami ketahuan gara-gara petugas itu melihat logo stasiun di tasku.
Tanpa ampun kami diusir. Aku langsung memberi isyarat ke Yudhi untuk mengganti kaset di kamera, mengantisipasi kalo-kalo mereka menyita kaset rekaman kami. Tak mau berurusan lama dengan mereka, kami segera angkat kaki. Di terminal ketemu Bang Icus, Revi, sama Krisna. Mereka ditugaskan untuk mengambil view pesawat yang menurunkan dan membawa jenazah Al-Ghozi. Malam ini juga Al-Ghozi akan diterbangkan ke Juanda.
Kami pulang, dan beritanya jadi breaking news. Ternyata selain kami, gak ada wartawan lain yang dapat gambar itu. Liputan ekslusif jadinya. Tapi Al-Ghozi sudah terlanjur mati.
Tunggu saja, besok-besok negara lain tidak akan menganggap kita ada. Betul-betul penjajahan!