tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, October 04, 2003

Kemana Saja Malam Tadi?

#1-Pemain Flute di Kedubes Jerman:

Natalie Becker, Johanna Daske, dan Olaf Futyma, tampak tenang memainkan flute-nya. Mereka memainkan simfoni trio, menghibur para tamu yang datang di perayaan peringatan reunifikasi Jerman itu. Sekalipun tak banyak yang memberi perhatian pada mereka, karena para tamu itu tampak lebih sibuk bercengkerama dengan sesama tamu, sambil makan berdiri.
Mencoba mengobrol sebentar dengan mereka, mencari tahu seperti apa implikasi (bah, kata apa pula ini?) penyatuan dua Jerman di mata seniman. Dan Olaf Futyma --satu-satunya pria di antara mereka-- ternyata tak jauh beda dengan aku: bahasa Inggrisnya payah!
Cobalah berkunjung ke sini, maka kalian akan tahu banyak tentang mereka.
...
Aku coba menyelundupkan dua botol air soda keluar, ternyata rasanya sama saja dengan yang dijual di warteg dekat kosan-ku. Keren di kalengnya doang!


#2-Cala Ibi, Nukila Amal:

Buku bagus! Tadi menyempatkan diri mampir ke toko bukunya Bang Yose Rizal di TIM. Sebenarnya nyari bukunya Pak Sapardi yang dipesan Bang Muhary tempo hari, tapi rak buku puisinya sudah dilipat sama Mas Ujang. Memang sudah waktunya tutup kayaknya, jam sebelas lewat. Iseng-iseng menelusuri rak, eh ada buku Cala Ibi itu! Lumayan murah, dibanding Gramedia.


#3-Di kantor, ketika mencoba menikmati hirupan pertama teh panas:

Tiba-tiba Ilham sudah nge-take kamera lagi. "Ada kebakaran," katanya. "Di Johar Baru. Indra baru saja nelpon!"
Dan begitulah, mesti merelakan kebahagian sederhana itu tertunda barang sejenak...
Setengah tiga pagi membangunkan driver yang tertidur di pool belakang. Meluncur ke Johar, hampir nabrak truk gandeng!
Sampai di sana, apinya sudah gede. Ada seratusan lebih kios yang musnah dilalap api. Pemadam kebakaran nggak bisa banyak menolong. Di seputaran warga korban beredar desas desus, kalau kebakaran ini disengaja. Kabarnya Juni tahun depan izin penempatan pasar tradisional itu sudah habis, dan tak ada tanda-tanda bakal diremajakan. Sementara mempertahankannya juga mungkin sulit bagi pemerintah. Bisa jadi tak ada jalan lain.
Oh, pasar tradisional... nasibmu, Nak.