tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, October 03, 2003

Hidup yang Seperti Seluloid


Jam delapan tadi malam aku masih berada di Gedung Erasmus Huis, menonton konser Paduan Suara IPB Agria Swara, menahan batuk di kursi belakang karena orang tak boleh ribut dalam sebuah pertunjukan seni sakral seperti itu, menikmati denting piano Budi Cahyo Purnomo, berusaha mengikuti lirik lagu Trato Marzo dan Scarborough Fair, wawancara dengan Pak Farid Faqih, dan bertemu Bejo yang lagi duduk tenang di samping seorang cewek.

Jam sepuluh kurang sedikit, tersendat-sendat berjalan di atas puing reruntuhan rumah korban gusuran di Tanjung Duren, mencari korban yang bisa diwawancarai. Tapi semuanya sudah pada pergi, kecuali seorang bapak yang masih berjuang mengais-ngais puing-puing bekas rumahnya. Katanya mencari beberapa surat-surat penting yang tak sempat diselamatkannya pada saat penggusuran terjadi pagi kemarin.
Menyempatkan diri ngobrol dengan para preman yang dibayar oleh entah siapa untuk menjaga alat-alat berat semisal buldozer yang habis dipakai meruntuhkan rumah-rumah warga. Dengan besi di tangan mereka iseng-iseng minta juga di-shoting...

Jam dua belas lebih sedikit, diajak berputar-putar oleh Pak Samsir menonton pemandangan lucu di Taman Lawang. Hahahahaha! Benar-benar lucu! Ada "perempuan" dengan dua tonjolan palsu di dada, dan satu tonjolan asli di... jakun. Sebenarnya aku tidak tega untuk menganggap mereka benar-benar lucu, karena aku yakin mereka begitu karena terpaksa oleh keadaan. Internal atau eksternal.
Tapi aneh juga melihat sosok perempuan berusaha tampak lemah lembut mengenakan sepatu dengan nomor 43!

Begitulah. Pekerjaanku yang membuatku harus bertemu dengan banyak hal tak terduga, suka atau tidak.
Dan pagi ini kantuk teramat hebat menyerangku. Tapi tak boleh tidur dulu kalau tak ingin bolos shalat Jumat siang nanti.