tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, October 11, 2003

Diam

Terlalu sering melintas di kepalaku, sebuah pertanyaan yang tak pernah tuntas kujawab.
Apa sebenarnya yang membuatku bertahan tetap menjadi wartawan?
Pertanyaan berat. Bahkan hampir setengah dari seluruh bangun pagiku pun aku mesti terpekur di pinggir ranjang sebelum betul-betul bangkit, karena memikirkan pertanyaan itu.
Bunda memang tak pernah menginginkan aku untuk menekuni pekerjaan ini (maafkan aku, Bunda...), dan mungkin inilah harga yang harus kubayar atas pembangkanganku itu. Keresahan berkepanjangan!
...
Ketika kuliah dulu, aku masih bisa memberi apologi;
Aku ingin menjadi wartawan karena aku ingin mencatat semua yang kurasakan.
Aku ingin merekam semua yang kulihat.
Aku ingin menjejakkan kaki di semua tempat.
Aku ingin menjadi saksi!
Tapi saksi apa? Catatan apa? Rekaman apa? Dan jejak apa yang akan kutinggalkan!?

Sebenarnya, aku hanya ingin sedikit punya arti bagi kehidupan. Itu saja. Tapi sejauh ini rasanya tak ada faedah apa-apa yang telah kulakukan.
Belakangan ini aku melihat begitu banyak orang yang kehilangan. Tarolah mereka mungkin memang tidak punya hak penuh atas suatu kepemilikan, tapi tetap saja yang namanya kehilangan pastilah menyakitkan.

Beberapa minggu lalu aku bertemu dengan karyawan PTDI yang terancam dirumahkan, terus besoknya karyawan Texmaco. Sebelumnya warga korban kebakaran di Tebet yang terpaksa tidur di lapangan sembari memandang langit. Korban gusuran di Tanjung Duren yang memunguti puing-puing rumahnya. Pengedar putau yang ditembak kakinya. Pedagang kaki lima yang dikeroyok preman. PSK. TKI yang diracun. TKW yang terpaksa dipulangkan. Istri-istri yang suaminya diculik karena dituduh teroris. Ibu kehilangan anak. Orang-orang yang menangis...

Begitulah, di sekitar semua penderitaan itu, tak ada yang bisa kuperbuat selain membuat berita dan menunggu gaji ditransfer ke rekening. Hanya itu.
Menjadi wartawan memang tak berarti apa-apa. Hanya melihat lebih banyak saja, sembari diam.