tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, October 30, 2003

Seperti Kupu-Kupu

Pagi ini sekawanan kupu-kupu yang sedang bermigrasi melintas di depan kantor. Konvoinya panjang dan berwarna kuning cerah. Dari lantai 3 tempatku bermarkas, kelihatan indah sekali dengan latar para pekerja yang sedang memasang besi beton di proyek gedung depan kantor.
Ribuan mungkin ada. Beberapa orang temanku menghentikan pekerjaannya dan sejenak menikmati pemandangan yang jarang-jarang itu.
Kata seorang temanku, sebentar lagi pasti akan banyak ulat. Karena kupu-kupu ini cuma bisa bertahan beberapa hari, dan mereka butuh regenerasi.

Tentang ulat yang menjadi kupu-kupu, aku teringat pada cerita seorang kawan.
Konon, suatu hari seseorang sedang mengamati kepompong yang bermetamorfosa. Ketika dilihatnya seekor mahluk tampak sangat susah payah keluar dari lubang kepompong yang kecil dan sempit itu, dia merasa kasihan. Lantas dia mengambil gunting, dan merobek kepompong itu agar makhluk lucu itu bisa leluasa keluar dari kepompongnya.
Calon kupu-kupu itu akhirnya bebas. Dan orang itu senang, karena merasa telah menolong seekor makhluk mencapai kehidupannya.
Tapi dia tak tahu, makhluk mungil itu ternyata tak pernah benar-benar menjelma kupu-kupu. Tubuhnya tetap gembung dan sayapnya mengkerut, tak bisa mengembang. Sepanjang hidupnya dia hanya merangkak dan tak pernah bisa terbang!

Orang itu tak tahu, kalau lubang kecil di kepompong itu adalah keniscayaan alam untuk memaksa cairan kepompong meresap ke dalam sayapnya, sekaligus menguras cairan-cairan racun yang tak diperlukannya untuk tumbuh. Itu skenario Allah untuk membuat calon kupu-kupu itu pada akhirnya menjadi kupu-kupu.
..
Cerita tentang kupu-kupu ini suatu kali dikutip kembali oleh AA Gym dalam sebuah acara di TV swasta. Kata beliau, seperti kupu-kupu itu, bulan Ramadhan ini adalah kepompong kita. Jika cobaannya terasa sangat berat, maka percayalah, itu adalah cara Allah untuk membuat kita menjadi manusia yang sebenarnya. Yang kuat dan tidak cengeng.
Selamat menjadi kupu-kupu!

Monday, October 27, 2003

Puasa Pertama

Hari pertama puasa. Gak sahur gara-gara ketiduran abis nonton bola di kamarnya Ewin.
Hari pertama juga aku dipindahin ke program baru. Kemarin itu liputan terakhirku di program spot. Tadi udah mulai rapat dengan tim dan produsernya, Mbak Yasmin Muntaz. Programnya namanya Hitam Putih. Program dokumenter yang dikemas dengan format antipoda. Ada pro dan kontranya. Edisi percobaan kemarin tentang Partai Komunis Indonesia. Edisi yang sekarang adalah tentang mantan orang nomor 1 Indonesia: Soeharto. Angle-nya masih belum jelas. Tapi aku yakin ini mengikuti risalah kejahatan media yang selalu mencoba mendahului takdir.
Aku ingat dulu pernah nonton dokumenter tentang pelukis Affandi yang ditayangkan pas di hari dia meninggal. Aku heran, kok bisa secepat itu ya kerja orang-orang tivi. Bertahun-tahun kemudian aku baru tahu kalau yang kayak begitu biasanya sudah disiapkan jauh-jauh hari! Gila kan!?
...
Eh, hari ini surprise banget, dapat reply email dari presenter acara petualangan idolaku:

Hidup Riyanni!! Hehehehe.

Sunday, October 26, 2003

Taraweh Pertama


Bagusnya di mana ya taraweh pertama malam ini?
Anak majelis ta'lim kantor kayanya bikin tarawehan di lobi. Di mesjid samping kosan juga boleh tuh. Tapi Bang Divi ngajakin ke Tanjung Duren, liputan sekaligus tarawehan bersama masyarakat korban gusuran beberapa waktu lalu...
Anyway, Selamat Datang, Ramadhan. Moga-moga aku gak bandel lagi kaya tahun-tahun kemarin.

Friday, October 24, 2003

Rasanya Ingin Menangis Setiap Menjelang Ramadhan Tiba

Setiap menjelang Ramadhan seperti saat ini, aku selalu teringat ketika masih kecil dulu. Ibu guru di madrasahku sering bercerita tentang keutamaan bulan itu. Yang paling sering disebut-sebutnya adalah Lailatul Qadar. Malam seribu bulan katanya.
Pikiran kanak-kanakku pun selalu membayangkan jika akan datang suatu malam di mana langit begitu terang, dan jari tak sanggup menghitung bulatan bulan di langit…
Malam yang istimewa. Dan aku selalu setia menunggunya.
Tapi hingga malam lebaran tiba, tak kunjung kutemui malam yang serupa itu.
Tahun depannya lagi pun akan seperti itu, selalu kutunggu malam yang didongengkan ibu guru itu. Dan tak pernah betul-betul ada.
Tapi tetap saja aku terobsesi.

Bertahun-tahun setelahnya. Aku mulai lupa pada obsesi dan harapan kanak-kanak itu. Setiap menjelang Ramadhan, rasanya tak ada lagi yang berubah. Tak ada lagi desir-desir halus itu setiap mendengar orang tilawah menjelang senja. Semuanya datar-datar saja. Seperti bulan Januari ke Februari. Seperti bulan Maret ke April. Hanya bertambah umur saja. Kalaupun ada yang beda, hanya bahwa aku harus sedikit menyisihkan gaji untuk mudik ke kampung, jika izin cutiku dikabulkan perusahaan. Bahwa masih ada dua wajah renta yang menungguku di sana, penuh harap.

Tapi Ramadhan ini, apakah aku benar-benar merindukannya?

Bukankah jika dalam keadaan puasa, pekerjaanku akan semakin berat. Bayangkan, kehausan mengejar narasumber, atau di bawah terik matahari siang memantau arus mudik --dan kita sendiri tak punya kesempatan untuk itu. Lantas apa yang istimewa dengan keadaan yang menyiksa seperti itu?

Ramadhan, benarkah aku rindu padamu?

Tapi, ketakutan akan kehilangan kenangan memaksaku untuk menghadirkan kembali ingatan itu. Kesibukan dan rutinitas seringkali memang membuat kita lupa. Keinginan menjadi kaya, keinginan untuk berprestasi, atau sekedar keinginan mendapat tepukan di pundak dari atasan kita, bisa jadi telah menjadi penjara. Maka tak ada lagi yang lebih berarti selain menjadi lebih. Lebih apa saja.
Dan entah kenapa, tiba-tiba saja aku rindu pada "dongeng" ibu guruku itu. Dongeng tentang Lailatul Qadar itu.

Hari ini, tinggal beberapa hari lagi Ramadhan tiba. Mengingat itu darahku berdesir. Menuju ke sana, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Pulang dari sini, bisa saja kita keserempet bus lalu nyawa melayang. Atau terkena demam berdarah dan meninggal empat hari kemudian karena terlambat tertolong. Tertabrak kereta di persimpangan sebelum sampai ke rumah. Ditusuk perampok di bus kota. Jatuh di sumur...
Allah, izinkanlah aku untuk bertemu Ramadhan tahun ini. Izinkanlah...
Aku rindu pada malam seribu bulan itu, sekalipun jari mungilku tak pernah berhasil menghitungnya dengan benar. Karena langit-Mu itu maha luas, ya Allah. Seperti ampunan-Mu.
Beri kesempatan, ya Allah, untuk berkumpul dengan hamba-hamba-Mu yang shaleh, dan memperbaharui imanku yang semakin berkarat ini.

Beri kesempatan, ya Allah.
Beri kesempatan...


"Ijlis binaa nu'min saah"
--Duduklah bersama kami, kita perbaharui iman sejenak...-----

--tulisan sederhana ini kubuat untuk buletin Jum'at Majlis Ta'lim kantorku... untuk mengingatkanku. Buat semua teman-teman, di dunia nyata maupun maya ini, saya minta maaf kalo saya pernah membuat kalian marah, jengkel, atau tersinggung. Mungkin ada yang merasa gak enak dengan coretan2 saya ini, merasa terzalimi. Maafkanlah... Yang pasti, saya tidak pernah benar-benar sengaja melakukan itu...

Sunday, October 19, 2003

Ikhlas

Keikhlasan menepis keinginan untuk berkuasa adalah ujian terberat bagi seorang calon pemimpin. Sangat berat, memang.
...
masih lelah, habis tiga hari keliling pesantren di Jawa Timur. Kayaknya mesti tidur dulu barang sebentar...

Wednesday, October 15, 2003

Negara Banci!


Biar saja dituduh subversif, tapi aku mau bilang: Indonesia negara banci! Tidak bisa melindungi warga negaranya.
Aku sama sekali tidak sepakat dengan terorisme, tapi melihat Al-Ghozi ditembak --entah dia teroris atau bukan-- rasanya hilang kebanggaanku sebagai warga negara. Malam ini, jenazah Al-Ghozi tiba di Cengkareng dari Manila, tapi atas pesanan seseorang, peristiwa ini dirahasiakan dan tak boleh diliput oleh pers. Beruntung aku dan Yudhi bisa menyusup masuk ke gudang kargo JAS setelah berkali-kali diusir, dan terpaksa melakukan sedikit tindakan licik.
Di situ aku melihat peti jenazah Al-Ghozi dicongkel petugas dan diperiksa oleh orang-orang dari Pusiden. Yudhi mengambil gambar dari bawah meja. Tapi kami digelandang keluar setelah petugas memergoki Yudhi menyalakan kamera. Kalo menurut perkiraanku sih kami ketahuan gara-gara petugas itu melihat logo stasiun di tasku.
Tanpa ampun kami diusir. Aku langsung memberi isyarat ke Yudhi untuk mengganti kaset di kamera, mengantisipasi kalo-kalo mereka menyita kaset rekaman kami. Tak mau berurusan lama dengan mereka, kami segera angkat kaki. Di terminal ketemu Bang Icus, Revi, sama Krisna. Mereka ditugaskan untuk mengambil view pesawat yang menurunkan dan membawa jenazah Al-Ghozi. Malam ini juga Al-Ghozi akan diterbangkan ke Juanda.
Kami pulang, dan beritanya jadi breaking news. Ternyata selain kami, gak ada wartawan lain yang dapat gambar itu. Liputan ekslusif jadinya. Tapi Al-Ghozi sudah terlanjur mati.
Tunggu saja, besok-besok negara lain tidak akan menganggap kita ada. Betul-betul penjajahan!

Saturday, October 11, 2003

Diam

Terlalu sering melintas di kepalaku, sebuah pertanyaan yang tak pernah tuntas kujawab.
Apa sebenarnya yang membuatku bertahan tetap menjadi wartawan?
Pertanyaan berat. Bahkan hampir setengah dari seluruh bangun pagiku pun aku mesti terpekur di pinggir ranjang sebelum betul-betul bangkit, karena memikirkan pertanyaan itu.
Bunda memang tak pernah menginginkan aku untuk menekuni pekerjaan ini (maafkan aku, Bunda...), dan mungkin inilah harga yang harus kubayar atas pembangkanganku itu. Keresahan berkepanjangan!
...
Ketika kuliah dulu, aku masih bisa memberi apologi;
Aku ingin menjadi wartawan karena aku ingin mencatat semua yang kurasakan.
Aku ingin merekam semua yang kulihat.
Aku ingin menjejakkan kaki di semua tempat.
Aku ingin menjadi saksi!
Tapi saksi apa? Catatan apa? Rekaman apa? Dan jejak apa yang akan kutinggalkan!?

Sebenarnya, aku hanya ingin sedikit punya arti bagi kehidupan. Itu saja. Tapi sejauh ini rasanya tak ada faedah apa-apa yang telah kulakukan.
Belakangan ini aku melihat begitu banyak orang yang kehilangan. Tarolah mereka mungkin memang tidak punya hak penuh atas suatu kepemilikan, tapi tetap saja yang namanya kehilangan pastilah menyakitkan.

Beberapa minggu lalu aku bertemu dengan karyawan PTDI yang terancam dirumahkan, terus besoknya karyawan Texmaco. Sebelumnya warga korban kebakaran di Tebet yang terpaksa tidur di lapangan sembari memandang langit. Korban gusuran di Tanjung Duren yang memunguti puing-puing rumahnya. Pengedar putau yang ditembak kakinya. Pedagang kaki lima yang dikeroyok preman. PSK. TKI yang diracun. TKW yang terpaksa dipulangkan. Istri-istri yang suaminya diculik karena dituduh teroris. Ibu kehilangan anak. Orang-orang yang menangis...

Begitulah, di sekitar semua penderitaan itu, tak ada yang bisa kuperbuat selain membuat berita dan menunggu gaji ditransfer ke rekening. Hanya itu.
Menjadi wartawan memang tak berarti apa-apa. Hanya melihat lebih banyak saja, sembari diam.

Seperti Apa Kita Akan Menjadi?

...
Satu persatu murid kelas 3 yang berjumlah 32 orang ini diperintahkan maju ke depan untuk menghapal hitungan perkalian. Namun, sial bagi Alan, sampai pada perkalian tujuh, ia tak lagi hafal. Ternyata hal ini membuat Ibu Guru Siana marah. Guru honorer pada sekolah tersebut memerintahkan 31 murid yang lain untuk memukuli Alan dengan menggunakan mistar atau penggaris kayu secara bergantian. Akibatnya sekujur tubuh Alan menjadi lebam dan memar.
Alan yang bertubuh kecil, tak kuat mendapat perlakuan kasar tersebut. Ia kemudian lari pulang ke rumah sambil menangis...


(Kutipan sebuah berita di Koran Tempo, Kamis, 9 Oktober 2003, halaman B6. Kejadiannya di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Sama sekali bukan dongeng....)

Thursday, October 09, 2003

The Last Discovery


Abis maen2 ke blog-nya Mas Balqi. Seperti biasa, ketawa habis. Gila! Kreatif banget tuh orang. Salut deh!
Ulasannya --hehehe... bahasa orba nih!-- betul-betul bisa meredakan stress di otak, tapi juga bisa mengintimidasi keegoisan dan ketidakpedulian kita pada lingkungan. Baru masuk saja aku sudah tersentak membaca deskripsi blog-nya: "Jalan Setapak Menuju Nirwana". Terus ada kepsion "There is still one last discovery yet to be made. The one about yourself"
Makasih, Bang. Dikau menguatkan apa yang selalu kuyakini, bahwa "sekolah" itu memang ada di mana-mana.

Wednesday, October 08, 2003

Sori! Sori! Sori!

(kali ini gak ada pic... lagi sedih nih!)
Asli hancur!! Gambar liputanku redish, gak tertolong lagi dah!
Bener-bener gak layak tayang! Padahal liputannya bagus. Tentang bakal korban penggusuran di Tegal Alur, Cengkareng. Personalisasi keluarga Pak Boniran yang menurut Walikota Sarimun bakal digusur tanggal 15 yang akan datang.
Aku jadi gak enak sama Mbak Ami dan produser. Mbak Ami ingin sekali berita ini bisa tayang besok agar bisa sedikit menggugah hati pemerintah untuk tidak main gusur sembarangan.
Pak Boniran, seorang di antara ratusan KK yang bakal jadi korban kebijakan itu, hanya mengeluhkan kenapa penggusuran ini dilakukan menjelang bulan Ramadhan yang tinggal beberapa minggu lagi.

Tapi itu tadi, gambarnya hancur. Tidak semua sih, hanya sekuen di dalam rumahnya saja merah, selebihnya normal. Tapi inti beritanya di situ, karena soundbite-nya aku ambil di dalam rumah itu. Sebenarnya bisa dihindari seandainya aku tidak ngotot memaksakan buat ngambil gambar dengan cahaya under seperti itu.
Bener-bener tak termaafkan!

Aku sudah menghadap ke Mas Dayat buat menjelaskan kejadiannya, dan beliau mau memahami.
"Ya sudahlah," kata Mas Dayat, "mau diapa lagi kalau memang begitu. Untung mood gue lagi bagus, habis liburan sih..."
Aku lega Mas Dayat tidak marah, tapi tetap saja aku merasa bersalah.

Monday, October 06, 2003

Yang Terlintas di Pagi Hari


Tadi subuh aku memimpikan Uce'. Adikku itu masih tetap teguh dengan perlawananannya. Bukan mimpi yang aneh sebenarnya, karena dia memang selalu menolak tunduk pada apapun yang dianggapnya tidak benar. (Tentang dia akan kuceritakan lebih banyak di sini)
Tapi aneh saja bagiku, karena sudah lama aku tidak memimpikan keluargaku. Dan tiba-tiba saja Uce' muncul di alam mimpiku. Dia saudaraku yang paling dekat beberapa tahun belakangan ini, karena kami tinggal sekamar di kos-an, sampai aku hengkang dan merantau ke Jakarta.
Ternyata, Bapak dan Emakku ada di Makassar seharian tadi, dan baru balik ke Bone pas maghrib. Pantas saja aku merindukan mereka semua. Tadi di telpon Uce' juga cerita kalau dia pengen segera nikah!
...
Hari ini betul-betul melelahkan. Aku liputan sama Mbak Adit ke PN Jaksel. Liputan Budi Han! Tadi itu sidang putusan hakim atas keterlibatannya dalam penyebarluasan VCD bugil Rachel dan kawan-kawan. Hampir enam jam menunggu, dan sidangnya baru dimulai jam 3 sore! Aku agak heran juga dengan proyeksi liputan hari ini. Biasanya sih yang kayak gini jadi bagiannya infotainment. Tapi entah kenapa kok kami bisa terselip di situ. Padahal dari infotainmen di stasiun tempatku bekerja juga sudah nongol di situ.
Hasilnya ricuh! Dua pot bunga pecah, dan wartawan infotainment itu pada ngamuk-ngamuk karena nggak diizinkan wawancara dengan Budi Han.
Dan seperti biasa, selain pulang membawa liputan, aku juga membawa migren pulang ke kantor.

--pic banner film India di atas dicontek dari blog-nya Mbak Shanty: sori, warnanya lucu sih...--

Saturday, October 04, 2003

Kemana Saja Malam Tadi?

#1-Pemain Flute di Kedubes Jerman:

Natalie Becker, Johanna Daske, dan Olaf Futyma, tampak tenang memainkan flute-nya. Mereka memainkan simfoni trio, menghibur para tamu yang datang di perayaan peringatan reunifikasi Jerman itu. Sekalipun tak banyak yang memberi perhatian pada mereka, karena para tamu itu tampak lebih sibuk bercengkerama dengan sesama tamu, sambil makan berdiri.
Mencoba mengobrol sebentar dengan mereka, mencari tahu seperti apa implikasi (bah, kata apa pula ini?) penyatuan dua Jerman di mata seniman. Dan Olaf Futyma --satu-satunya pria di antara mereka-- ternyata tak jauh beda dengan aku: bahasa Inggrisnya payah!
Cobalah berkunjung ke sini, maka kalian akan tahu banyak tentang mereka.
...
Aku coba menyelundupkan dua botol air soda keluar, ternyata rasanya sama saja dengan yang dijual di warteg dekat kosan-ku. Keren di kalengnya doang!


#2-Cala Ibi, Nukila Amal:

Buku bagus! Tadi menyempatkan diri mampir ke toko bukunya Bang Yose Rizal di TIM. Sebenarnya nyari bukunya Pak Sapardi yang dipesan Bang Muhary tempo hari, tapi rak buku puisinya sudah dilipat sama Mas Ujang. Memang sudah waktunya tutup kayaknya, jam sebelas lewat. Iseng-iseng menelusuri rak, eh ada buku Cala Ibi itu! Lumayan murah, dibanding Gramedia.


#3-Di kantor, ketika mencoba menikmati hirupan pertama teh panas:

Tiba-tiba Ilham sudah nge-take kamera lagi. "Ada kebakaran," katanya. "Di Johar Baru. Indra baru saja nelpon!"
Dan begitulah, mesti merelakan kebahagian sederhana itu tertunda barang sejenak...
Setengah tiga pagi membangunkan driver yang tertidur di pool belakang. Meluncur ke Johar, hampir nabrak truk gandeng!
Sampai di sana, apinya sudah gede. Ada seratusan lebih kios yang musnah dilalap api. Pemadam kebakaran nggak bisa banyak menolong. Di seputaran warga korban beredar desas desus, kalau kebakaran ini disengaja. Kabarnya Juni tahun depan izin penempatan pasar tradisional itu sudah habis, dan tak ada tanda-tanda bakal diremajakan. Sementara mempertahankannya juga mungkin sulit bagi pemerintah. Bisa jadi tak ada jalan lain.
Oh, pasar tradisional... nasibmu, Nak.

Friday, October 03, 2003

STOP PRESS!!!

Gila!
Pagi ini aku nggak kebagian kupon makan, padahal ada yang dapat tiga biji.
Apa bukan penindasan itu namanya?

Hidup yang Seperti Seluloid


Jam delapan tadi malam aku masih berada di Gedung Erasmus Huis, menonton konser Paduan Suara IPB Agria Swara, menahan batuk di kursi belakang karena orang tak boleh ribut dalam sebuah pertunjukan seni sakral seperti itu, menikmati denting piano Budi Cahyo Purnomo, berusaha mengikuti lirik lagu Trato Marzo dan Scarborough Fair, wawancara dengan Pak Farid Faqih, dan bertemu Bejo yang lagi duduk tenang di samping seorang cewek.

Jam sepuluh kurang sedikit, tersendat-sendat berjalan di atas puing reruntuhan rumah korban gusuran di Tanjung Duren, mencari korban yang bisa diwawancarai. Tapi semuanya sudah pada pergi, kecuali seorang bapak yang masih berjuang mengais-ngais puing-puing bekas rumahnya. Katanya mencari beberapa surat-surat penting yang tak sempat diselamatkannya pada saat penggusuran terjadi pagi kemarin.
Menyempatkan diri ngobrol dengan para preman yang dibayar oleh entah siapa untuk menjaga alat-alat berat semisal buldozer yang habis dipakai meruntuhkan rumah-rumah warga. Dengan besi di tangan mereka iseng-iseng minta juga di-shoting...

Jam dua belas lebih sedikit, diajak berputar-putar oleh Pak Samsir menonton pemandangan lucu di Taman Lawang. Hahahahaha! Benar-benar lucu! Ada "perempuan" dengan dua tonjolan palsu di dada, dan satu tonjolan asli di... jakun. Sebenarnya aku tidak tega untuk menganggap mereka benar-benar lucu, karena aku yakin mereka begitu karena terpaksa oleh keadaan. Internal atau eksternal.
Tapi aneh juga melihat sosok perempuan berusaha tampak lemah lembut mengenakan sepatu dengan nomor 43!

Begitulah. Pekerjaanku yang membuatku harus bertemu dengan banyak hal tak terduga, suka atau tidak.
Dan pagi ini kantuk teramat hebat menyerangku. Tapi tak boleh tidur dulu kalau tak ingin bolos shalat Jumat siang nanti.

Thursday, October 02, 2003

Semakin Mendekati Binatang


Mau dan bersedia mengambil pelajaran dari binatang adalah salah satu ciri kerendahan hati seorang manusia. Tapi berkelakuan seperti binatang tentu saja lain lagi soalnya.
Disney begitu terkenal karena sukses menghadirkan sifat manusia ke dalam sosok binatang, atau sebaliknya. Sekedar menyebut contoh, Mickey dan Donald. Keduanya ikon Disney, dan keduanya binatang. Mereka berhasil muncul sebagai simulakrum yang tak tanggung-tanggung menyihir dunia nyata kita.
Para jagoan dari negeri antah berantah juga seringkali terinsipirasi oleh binatang. Lihatlah Batman dengan jubah kelelawarnya, atau Phantom yang menisbatkan dirinya sebagai perwujudan sepuluh tenaga singa.
Pendekar dari kuil shaolin juga banyak menimba ilmu dari perangai binatang, rajawali misalnya. Dalam khasanah lokal, kita pun mengenal Wiro Sableng yang punya jurus "Kunyuk Melempar Buah".

Tipis sekali memang, batasan antara mengambil pelajaran dari dan berkelakuan seperti binatang. Kita sebagai mahluk terkemuka, telah dikarunia Allah kemampuan untuk menyerap apapun di sekitar kita dengan tujuan untuk mempertegas eksistensi kemanusiaan kita. Maka tak salah bila kitab suci memperingatkan; manusia yang kerjanya hanya menuruti hawa nafsu, maka derajatnya akan diturunkan menjadi sejajar dengan binatang!
Dalam hal ini, tarafnya tentu saja menjadi berkelakuan seperti.

"........"
Kalo ada kesempatan, tontonlah infotainmen mutakhir. Ada kabar perseteruan dua penyanyi dangdut pendatang baru berinisial NK dan DP. Konon, karena goyangan mereka berdua yang aduhai seperti ular meliuk-liuk dianggap serupa, mereka mempermasalahkan mengenai siapa sesungguhnya di antara mereka yang lebih berhak menyandang gelar sebagai Ratu Melata!