tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, September 11, 2003

Tragedi

img src="http://www.newyorker.com/images/online/020916onslpo_slide_1_p350.jpg" width="120" height="80" >
Mengenang Tragedi 11 September 2001;
nothing more savage than civilization!


Seorang teman mengirimiku email, bercerita tentang dirinya yang mengalami ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas. Dia menyebutnya self abuse. Tak pernah kusangka dia mengalami itu, karena sehari-hari dia adalah seorang gadis manis yang senantiasa kelihatan ceria. Aktif dan banyak tawa.
Keresahan rasanya bukan bagian dari hidupnya. Tapi siapakah sesungguhnya di dunia ini yang tak pernah resah?
Maka menurutku kemudian, tak ada yang salah dengan dia. Hanya yang tak bisa kumengerti, jika penyakitnya datang, dia tak segan-segan mengiris lengannya hingga berdarah.
Katanya dia tertekan, karena tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Semua orang berlomba-lomba menjadi patron yang baik baginya. Sesuatu yang ideal. Bahkan yang belum tentu benar sekalipun.
Dia, seorang gadis berjilbab yang selalu ingin tampak bahagia; menyimpan bara api di hatinya. Bernama ketakutan. Ketertindasan.
Tulisnya, "Kak, mati itu adalah mutasi mimpi kan?"

Hari ini, dua tahun lalu, gedung WTC rubuh dihantam pesawat. Pekerjaan sempurna sekawanan teroris. Lebih dari lima ribu orang mati atau hilang. Tentu tidak semua dari mereka mencapai mutasi mimpinya. Kecuali beberapa orang yang memang terlanjur punya cita-cita aneh: ingin namanya tercantum di sebuah memorial wall mana saja, dengan tragedi apa saja. Dan berbahagialah mereka yang bisa mencapai impian dan cita-citanya, melalui ketakutan yang mengerikan sekalipun!

Hari ini, setelah melalui banyak teror dan kepedihan, semakin aku belajar untuk menjadi dewasa. Belajar untuk tidak takut pada apa pun.
Kuterjemahkan bebas kata bapakku, "Jika seseorang mengaku sebagai lelaki, hanya ada satu jalan yang tak bisa ditempuhnya: HANYA TEPIAN LANGIT!"
Padahal siapapun tahu, bahwa langit tak pernah punya tepi.

Live dangerously!