tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, September 18, 2003

Semoga Kita Tidak Hidup di Negara Teroris


Pagi ini, sebuah berita penggusuran muncul di layar TV. Sekelompok warga Cengkareng yang menempati tanah yang dianggap bukan haknya, diusir dengan semena-mena. Rumah-rumah mereka dirubuhkan, tanpa perlu mempertimbangkan betapa susahnya dulu dia didirikan. Harta benda sederhana yang mewujud dengan banyak keringat, dengan banyak tangis.
Seorang ibu pedagang sayur meraung di depan puing rumahnya. Dua anaknya tak berbaju duduk di kursi bambu yang masih sempat mereka selamatkan. Juga menangis.

Tak ada yang bisa melawan. Karena mereka ditembaki seperti penjahat. 27 orang dibawa ke UGD.
Polisi dan Tramtib itu, menembaki saudara-saudaranya sendiri demi menyenangkan para penguasa. Menyedihkan. Justru karena pada saat speerti itu kita tidak tahu harus berpihak kepada siapa.
Kalau sudah seperti ini, siapa sesungguhnya yang teroris?
Entah. Yang jelas, malam tadi, mereka --para korban penggusuran itu-- melewatkan malam dengan memandang langit. Mungkin kedinginan. Mungkin ketakutan. Padahal mereka dekat sekali dengan kita.