tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, September 15, 2003

Migren


Migrenku kambuh, mungkin karena hujan mulai turun.
Liputanku hari ini aneh-aneh. Ke Jalan Bangka bantu Muhar bikin rekon kasus seorang ibu yang menjual anak. Kejadiannya beneran, terjadi di Tangerang. Seorang ibu karena kesulitan ekonomi terpaksa menjual anaknya yang berumur 10 tahun, tapi kemudian dia menyesal dan berniat mencari penadah anaknya itu. Semoga saja dia menemukannya kembali.

Terus tidak jadi ke RSCM. Liputan operasi plastik dialihkan ke orang lain.
Jadinya ke KOMNAS HAM:
Tiga orang wanita bercadar datang mengadukan nasibnya. Suami mereka telah hilang sejak akhir Juli sampai pertengahan Agustus lalu. Sebagian tiba-tiba muncul dan telah menjadi tahanan Polda. Tiga wanita itu perwakilan dari istri para aktivis Islam yang hilang itu. Ada sekitar 25 orang yang sampai sekarang tidak ketahuan nasibnya.
Salah seorang menangis karena rumahnya diobrak-obrik oleh polisi dan penjinak bom. Suaminya dituduh sebagai dalang peledakan bom di gedung PBB, DPR/MPR, dan Bandara Soekarno Hatta. Padahal menurutnya, suaminya tidak tahu apa-apa...
Seorang lagi bercerita tentang laki-laki yang dipanggilnya 'Abi' itu ditemuinya dengan wajah yang hampir tak dikenalinya. Tangan terborgol di kursi, dan kursi itu tak boleh dilepas bahkan ke WC sekalipun.
Tiga orang wanita itu, datang dengan menangis, mengisahkan sebuah kehilangan. Dan juga penindasan.

Oh ya, malam ini akan kukabari ibuku bahwa aku baik-baik saja, hanya sedikit migren, dan tak perlu beliau mengkhawatirkanku...