tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, September 28, 2003

Menjadi Tua dan Tak Berdaya


Wajah-wajah seusia nenek buyutku itu kurekam baik-baik di lensa kameraku. Kerut-kerut ketuaan dan tekstur bergelombang di keriput kulitnya memberi tanda panjangnya jalur almanak yang telah dilaluinya. Puluhan tahun, hampir ratusan. Dan mereka masih bisa tertawa-tawa, sesekali saling memberi ciuman di pipi. Tak peduli dia pria atau wanita.
Ada beberapa yang tertatih-tatih dengan tongkat, atau duduk anteng di atas kursi rodanya. Penerima tamu menawarkan kepada mereka mau duduk di mana; bersama teman seangkatan di sekolah, atau teman dari sekolah lain tapi dengan kenangan yang sama.

Dari balik viewfinder, beberapa kali aku tertawa, dalam hati atau benar-benar tertawa. Tanpa maksud meremehkan atau menghina, rasanya tingkah mereka memang mengundang tawa. Lucu saja melihat mereka berbaur dan saling bercerita. Riuh. Hanya satu kali mereka benar-benar terdiam, adalah pada saat ketua panitia membacakan nama-nama mereka yang tak sempat hadir di reuni ini, karena telah terlebih dahulu menghadap Yang Kuasa. Hampir seluruhnya tertegun, diingatkan pada ketidakberdayaan menghadapi maut.
Ah, bayangan kematian itu senantiasa berkelebat. Dan wujud aslinya tak pernah disangka-sangka kapan datangnya.... Dan aku tiba-tiba teringat pada para jugun ianfu dan... barisan Gerwani yang tak seberuntung mereka.

Mereka alumni sekolah jaman Belanda --Hogere Burger School (HBS) dan Algemene Middlebare School (AMS), semoga aku tak salah mengeja-- dari angkatan pertama sampai alumni tahun 1942 dari seluruh Indonesia. Di antara mereka ada Pak Rosihan Anwar, alumni Jogjakarta, yang ketika melihatku menenteng kamera, serta merta mendekatiku dan bertanya, "Kamu dari Cek & Ricek ya?"
Tentu saja kujawab bukan. Hehehe... Pak Rosihan mungkin terbiasa diwawancarai infotainment...

Menjelang akhir acara, seorang bapak tua tampak berkeliling ruangan. Dengan kamera Nikon-nya dia memotret siapa saja. Ketika beliau duduk di kursi di sebelahku, iseng-iseng aku tanya apakah beliau hobi fotografi.
Bapak itu menjawab, "Ah, tidak. Mereka itu orang-orang yang berjasa bagi negara." Maksudnya mungkin karena itulah mereka wajib didokumentasikan.
"Kamu sudah ketemu Pak Hugeng? Ibu Nasution?" tanyanya.
Dia juga menunjuk seorang ibu yang katanya ikut menculik Soekarno pada saat menjelang Proklamasi kemerdekaan dulu.
"Bapak alumni HBS juga?" tanyaku.
"Oh tidak. Saya di zaman Jepang."
Kami pun tenggelam dalam obrolan panjang. Saya sempat menanyakan tentang cetak ulang bukunya, Revolusi Berhenti Hari Minggu. Dan beliau hanya tertawa saja.

Tak lama seorang gadis cantik berjilbab datang mendekati kami, menyodorkan sebuah notes dan pulpen. "Bapak," katanya, "permisi... nenek saya yang duduk dipojokan itu minta alamat dan nomor telepon Bapak..."
Bapak ramah itu menerima notes itu setelah menanyakan siapa nama nenek gadis itu.
Di situ dia menulis namanya, tanpa embel-embel: Emil Salim.