tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, September 14, 2003

De Javu


Hari ini, setelah sekian lama, aku mengalami de javu lagi.
De javu #1:
Ketika Ibu Maemunah memegang foto anaknya, Wardhani, dan menyelipkannya ke album foto. Putra ketiganya itu terbunuh dengan tiga lubang peluru di dadanya --mungkin oleh aparat-- sembilan tahun lalu.
Saat peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984 terjadi, Wardhani hanya anak muda kebanyakan yang apolitis. Tak berniat makar atau menggugat asas tunggal. Tapi dia terbunuh juga bersama puluhan --atau bahkan mungkin ratusan-- korban lain yang tak diketahui rimbanya.
Peristiwa itu sudah lama berlalu. Dan masih menyakitkan...
Ketemu dua orang bapak juga: satu putus dua jari tangan kanannya, satunya lagi kehilangan kaki kanannya.

De Javu #2:
Ketika Tante Ida menraktir kami makan di Hoka-Hoka Bento. De javu yang aneh, karena bisa kupastikan itu pertama kalinya aku makan di restoran Jepang. Ditemani Tante Ida pula, pertama kali aku men-ziarahi makam kakekku, setelah meninggalnya beliau empat tahun lalu.
Kakek Haji Koda, aku masih ingat pada buku tulis yang dibelikannya pada saat hari pertama aku masuk sekolah; buku tulis tidak terlalu tebal bergambar kakatua.
Kakek Haji Koda, ayahanda ibuku. Tante Ida, adik tiri ibuku yang belum sempat ditemuinya.
Keluarga besar kami yang terpisah lautan, juga oleh ketidakmengertian pada arti tentang tumbuh bersama.