tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, August 18, 2003

Hari Merdeka

Terlambat sehari untuk menyampaikan "Selamat Hari Kemerdekaan!"
Sebenarnya tak sungguh-sungguh aku mengatakan ini. Aku merasa sangat belum merdeka. Tadi malam aku digeledah seperti perampok oleh Bapak-bapak petugas keamanan yang terhomat, saat ingin meliput acara Renungan Suci-nya Ibu Mega di TMP Kalibata. Ibu Mega sangat terjaga. Seperti keramik China yang ringkih dan gampang jatuh. Orang biasa mesti sejauh puluhan meter darinya sekarang... nggak boleh dekat-dekat lagi. Padahal dulu dia adalah sosok yang merakyat. Bahkan wartawan pun tak ada yang boleh masuk, kecuali SCTV dan TVRI yang entah bagaimana caranya.

Beberapa jam sebelumnya ada pembacaan puisi di Monumen Proklamasi. Para birokrat bergabung dengan budayawan, artis, dan penyair betulan, tampil membaca puisi. Ada I Gede Ardika, Permadi, Nurul Arifin, dan Rossa. Bang Jose Rizal dan Sitor Situmorang juga ada. Asyik juga. Apalagi minuman yang disuguhkan bandrek!
Oh ya, sekali lagi: Selamat Hari Merdeka! Bebaskan jiwamu dari mental budak!