tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, July 26, 2003

Tentang Kacamata


Kemarin aku meliput demo mahasiswa BEM se-Bandung Raya di Imam Bonjol. Mereka menuntut Mega-Hamzah mundur karena dianggap tidak becus mengurusi negara. Sebenarnya demonya lumayan tertib, tapi entah kenapa tiba-tiba terjadi bentrok kecil dengan polisi. Yang luka sekitar 30-an orang. Banyak yang berdarah dan patah tulang. Semuanya dibawa ke RSCM. Dengan salah satu korban di sana, aku tunjukkan "kenang-kenangan" yang kudapat dari seorang demonstran: potongan pentungan polisi yang patah! Entah bagaimana cara mereka memukul...

Ketika kupreview di ruang edit, ada satu momen yang menarik perhatianku. Seorang mahasiswa memungut sebuah kacamata yang sudah hancur. Kejadiannya cepat sekali. Rencananya mereka akan dikawal kembali ke Salemba, tapi seketika situasinya menjadi sangat kacau, dan polisi mulai memukulkan tongkat mereka. Aku melihat banyak yang terkapar dan digotong ke pinggir jalan. Sandal dan scarf berceceran kehilangan tuan.
Tapi kacamata itu! Kacamata itu mengingatkanku pada Uce', adikku.

Seperti mahasiswa-mahasiswa itu, Uce' juga seorang demonstran. Untuk ukuran seangkatan dan sejurusannya, kurasa dia memang sedikit "abnormal". Hampir tak pernah ada demo yang dilewatinya. Apalagi kalau demo itu sesuai dengan ideologi dan garis organisasinya.
Suatu hari dia tidak pulang ke kos-an, dan temannya mengabarkan kalau dia sudah berada di sel kantor polisi. Dia berdemo di gedung DPRD, dan di sana dia bersama belasan temannya digebuki polisi. Kabarnya dia diseret di jalanan, dan kacamatanya pecah. Padahal kacamata itu baru sehari sebelumnya aku belikan, karena kacamata lamanya sudah pecah di bagian pinggirnya.

Malam itu juga dia dibebaskan karena mogok makan di sel. Dan dia membawa pulang kacamata yang sudah patah itu, lalu ditunjukkan padaku. Aku tahu dia merasa bersalah dengan kejadian itu. Tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan kesedihanku. Padahal, jujur, aku sedih. Karena mesti menunggu beberapa bulan lagi untuk membelikannya kacamata pengganti yang baru...

Besoknya, ibuku menelpon dari kampung. Menangis. Teman kantornya mengatakan kalau dia melihat Uce' di TV, ditangkap polisi. Aku tidak bisa lagi berbohong kali ini. Sepertinya ibuku menyesali kami yang tidak berterus terang. Pada ibuku aku bilang kalau semuanya baik-baik saja, dan Uce' memang harus merasakan itu, merasakan bagaimana rasanya dituduh melanggar hukum. Resiko seseorang yang memilih berseberangan dengan sistem!

Itulah sebabnya mengapa setiap kali aku melihat demonstran berkacamata, aku selalu teringat pada Uce'. Entah sedang apa dia sekarang. Harapanku semoga dia mulai menekuni kuliahnya kembali. Sebelum aku berangkat ke sini, kacamatanya masih belum diganti juga. Lensa lama yang pecah bagian pinggirnya, dan gagang pemberian seorang temannya, masih dengan ikhlas dipakainya...
Padahal itu telah hampir setahun yang lewat...