tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, July 08, 2003

Mental Slavery


Emansipate your soul from mental slavery. None but ourselves can free our mind!"
--Bob Marley, Redemption Song--

Hari ini aku dipanggil Mas Iwan, Kadiv Pemberitaan, dan Pak Noko, Kepala HRD di kantorku.
Sebenarnya aku libur, tapi karena Odi kasih kabar kalau dia mau resign, maka aku pun merelakan untuk masuk kantor. Hanya bersandal gunung, tidak bersepatu. Betapa tidak sopan aku menghadap mereka dengan tampilan seperti itu.
Mungkin bukan kesengajaan mereka memanggilku, bisa jadi hanya karena aku yang kebetulan melintas dekat ruangan berkacanya. Tapi tetap saja aku bertanya dalam hati; kenapa saya?
Oleh beliau-beliau aku ditanya tentang teman-teman yang mau resign, tentang salary, dan keberatan-keberatanku. Terus terang aku bingung. Nggak tau mau jawab apa.
Ternyata, tidak hanya Odi --teman pitching-ku-- yang resign hari ini, tapi juga Abdi dan Bang Jalil.

Kepada Mas Iwan dan Pak Noko terus terang aku bilang kalau agak berat untuk hidup di Jakarta dengan gaji seperti yang selama ini kami terima. Aku bilang kalau aku bahkan belum sempat ngirim apa-apa ke orang tuaku di kampung. Lantas aku diceramahi. Lama sekali. Mengikuti aturan kesopanan, aku pun mengangguk-angguk saja.
Bagiku pribadi sebenarnya gaji tidak terlalu bermasalah. Aku masih sempat nabung meski tidak banyak. Tapi aku tidak berhak meng-generalisir kondisiku kepada teman-teman yang lain. Aku maklum kalau kebutuhan orang berbeda-beda.

Menjelang maghrib, semua batch angkatanku dikumpulkan dan diminta berbicara semua yang dikeluhkan. Tidak semuanya ngomong, padahal semuanya seperti punya masalah.
Sehabis maghrib aku ke ruangannya Mas Iwan lagi. Dan kami bicara banyak tentang pertemuan tadi. Kami juga berdiskusi sedikit tentang jurnalisme --terutama prinsip jurnalisme yang kuanut. Aku bilang sama Mas Iwan, "Mas, saya sudah menganggap Mas Iwan sebagai orang tua saya di sini, karena saya tidak punya siapa-siapa di kota ini. Kalau seandainya saya salah, tolong tegur saya..."

Sebenarnya kami membicarakan sesuatu yang agak krusial, dan beliau banyak menasehatiku.

Keluar dari ruangan Mas Iwan aku merasa agak tenang.
Satu kesimpulanku: "Jangan pernah mengandalkan hidupmu pada orang lain. Karena tak ada yang paling paham tentang diri kita selain kita sendiri..."