tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, July 31, 2003

Beloved Jail

By the way, My Friends, I have to go. Something force me to have to....
Let's say goodbye for this beloved jail!
Adios!

Saturday, July 26, 2003

Tentang Kacamata


Kemarin aku meliput demo mahasiswa BEM se-Bandung Raya di Imam Bonjol. Mereka menuntut Mega-Hamzah mundur karena dianggap tidak becus mengurusi negara. Sebenarnya demonya lumayan tertib, tapi entah kenapa tiba-tiba terjadi bentrok kecil dengan polisi. Yang luka sekitar 30-an orang. Banyak yang berdarah dan patah tulang. Semuanya dibawa ke RSCM. Dengan salah satu korban di sana, aku tunjukkan "kenang-kenangan" yang kudapat dari seorang demonstran: potongan pentungan polisi yang patah! Entah bagaimana cara mereka memukul...

Ketika kupreview di ruang edit, ada satu momen yang menarik perhatianku. Seorang mahasiswa memungut sebuah kacamata yang sudah hancur. Kejadiannya cepat sekali. Rencananya mereka akan dikawal kembali ke Salemba, tapi seketika situasinya menjadi sangat kacau, dan polisi mulai memukulkan tongkat mereka. Aku melihat banyak yang terkapar dan digotong ke pinggir jalan. Sandal dan scarf berceceran kehilangan tuan.
Tapi kacamata itu! Kacamata itu mengingatkanku pada Uce', adikku.

Seperti mahasiswa-mahasiswa itu, Uce' juga seorang demonstran. Untuk ukuran seangkatan dan sejurusannya, kurasa dia memang sedikit "abnormal". Hampir tak pernah ada demo yang dilewatinya. Apalagi kalau demo itu sesuai dengan ideologi dan garis organisasinya.
Suatu hari dia tidak pulang ke kos-an, dan temannya mengabarkan kalau dia sudah berada di sel kantor polisi. Dia berdemo di gedung DPRD, dan di sana dia bersama belasan temannya digebuki polisi. Kabarnya dia diseret di jalanan, dan kacamatanya pecah. Padahal kacamata itu baru sehari sebelumnya aku belikan, karena kacamata lamanya sudah pecah di bagian pinggirnya.

Malam itu juga dia dibebaskan karena mogok makan di sel. Dan dia membawa pulang kacamata yang sudah patah itu, lalu ditunjukkan padaku. Aku tahu dia merasa bersalah dengan kejadian itu. Tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan kesedihanku. Padahal, jujur, aku sedih. Karena mesti menunggu beberapa bulan lagi untuk membelikannya kacamata pengganti yang baru...

Besoknya, ibuku menelpon dari kampung. Menangis. Teman kantornya mengatakan kalau dia melihat Uce' di TV, ditangkap polisi. Aku tidak bisa lagi berbohong kali ini. Sepertinya ibuku menyesali kami yang tidak berterus terang. Pada ibuku aku bilang kalau semuanya baik-baik saja, dan Uce' memang harus merasakan itu, merasakan bagaimana rasanya dituduh melanggar hukum. Resiko seseorang yang memilih berseberangan dengan sistem!

Itulah sebabnya mengapa setiap kali aku melihat demonstran berkacamata, aku selalu teringat pada Uce'. Entah sedang apa dia sekarang. Harapanku semoga dia mulai menekuni kuliahnya kembali. Sebelum aku berangkat ke sini, kacamatanya masih belum diganti juga. Lensa lama yang pecah bagian pinggirnya, dan gagang pemberian seorang temannya, masih dengan ikhlas dipakainya...
Padahal itu telah hampir setahun yang lewat...

Sunday, July 20, 2003

Jarak

Seperti biasa kalau mau ke kantor, aku selalu lewat di gang samping kantor. Selain dekat, lewat sana juga relatif aman. Setidaknya bisa sedikit terhindar dari asap kendaraan dan keributan. Hampir tiap hari kulalui tanpa pernah memperhatikan apa-apa yang ada. Tapi tadi malam ada yang lain di sana. Di ujung gang terpasang sebuah janur kuning melambai, dan di sisi yang satunya sebuah bendera kuning berkibar. Satu menandakan ada pernikahan, sedang satunya memberi kabar seseorang telah berpulang ke penciptanya.
Begitulah ternyata. Kebahagiaan dan kesedihan terkadang hanya berjarak satu gang... tidak lebih dari dua langkah.

Tuesday, July 15, 2003

Sendiri

bahkan kesendirian sekalipun tetap saja punya makna...

Monday, July 14, 2003

Seperti Pohon


Sama seperti pohon ......
Di Pokok kita masih satu,
lantas kita berpisah di cabang.
Ada yang kekiri, ada yang ke kanan, ke depan, ke belakang...
Atau bila masih satu cabang, kita nanti akan berpisah juga di ranting.
Ada yang lurus keatas, kedepan, ke samping, ke belakang...
Waktunya makin banyak,
beda dan dewasa kita juga tambah banyak ..
Itulah kita..

----Bubin Lantang, Jejak-Jejak----


Setiap kali kudengar lagu Iwan Fals di album Suara Hati, aku selalu dibuat teringat pada kampus. Pada PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Unhas, tempatku sekian tahun terbenam. Mencari makna hidup dalam kesendirian.
Lagu-lagu Iwan itu begitu luar biasa. Seperti penyanyinya. Dia tidak butuh banyak hal agar bisa didengarkan. Kadang dia hanya butuh sebuah gitar atau harmonika. Aku rasa dia sangat rendah hati. Dan sangat tidak selebritis!
Indah sekali. Sekalipun kadang sesak terasa, karena mau tidak mau lagu-lagu itu selalu mengingatkanku pada banyak kenangan. Membuatku sentimentil.
Aku ingat Bang Yoe-fals, yang tak kenal waktu mengajari kami pagemaker di komputer butut UKPM, agar kami tetap bisa membuat buletin dan menyebarkan perlawanan kami. Aku ingat Irna, pada cita-cita menghidupkan Revolvere, setelah AMPD kami rasa tidak bisa lagi terlalu diandalkan. Pada bengkel buku yang kuimpikan dan telah kurencanakan bersama Indah. Pada semua. Pada cita-cita yang mungkin terdengar konyol dan mengawang-awang saking sederhananya... milikku, dan teman-temanku itu.

Pagi ini aku terkenang pada mereka semua. Terakhir kudengar mereka berurusan lagi dengan rektorat karena mendemo jalur khusus penerimaan mahasiswa baru. Aku dengar mereka diintimidasi. Sementara aku di sini masih sempat bermain komputer dan mengirim e-mail.

Ingat tidak, Kawan, suatu hari kita pernah berdiskusi tentang pohon dan daun? Sepertinya inilah saatnya kita --setelah lelah menjadi pokok pohon-- menjadi daun, berakhir di daun: suatu hari nanti akan gugur, menjadi humus dan menyuburkan tanah. Semoga.
Kurindu kalian semua!

Friday, July 11, 2003

Masih Manusia


Hari ini dua kali aku mengeluarkan air mata:

#1: Gara-gara serbuk gas air mata di Polda. Membuat mataku perih. Tiga orang tersangka anggota Jamaah Islamiyah ditangkap, satu orang --menurut polisi-- bunuh diri. Tapi aku tidak percaya.
"Berkurang satu nyawa... berkurang satu dunia..."

#2: Gara-gara ikut Bang Abaw ke Al-Hikmah, terus dengar kaset murottal di sebuah toko buku dekat sana. Aku bahagia. Setidak-tidaknya aku masih bisa menangis. Itu artinya aku masih manusia.

Tuesday, July 08, 2003

Mental Slavery


Emansipate your soul from mental slavery. None but ourselves can free our mind!"
--Bob Marley, Redemption Song--

Hari ini aku dipanggil Mas Iwan, Kadiv Pemberitaan, dan Pak Noko, Kepala HRD di kantorku.
Sebenarnya aku libur, tapi karena Odi kasih kabar kalau dia mau resign, maka aku pun merelakan untuk masuk kantor. Hanya bersandal gunung, tidak bersepatu. Betapa tidak sopan aku menghadap mereka dengan tampilan seperti itu.
Mungkin bukan kesengajaan mereka memanggilku, bisa jadi hanya karena aku yang kebetulan melintas dekat ruangan berkacanya. Tapi tetap saja aku bertanya dalam hati; kenapa saya?
Oleh beliau-beliau aku ditanya tentang teman-teman yang mau resign, tentang salary, dan keberatan-keberatanku. Terus terang aku bingung. Nggak tau mau jawab apa.
Ternyata, tidak hanya Odi --teman pitching-ku-- yang resign hari ini, tapi juga Abdi dan Bang Jalil.

Kepada Mas Iwan dan Pak Noko terus terang aku bilang kalau agak berat untuk hidup di Jakarta dengan gaji seperti yang selama ini kami terima. Aku bilang kalau aku bahkan belum sempat ngirim apa-apa ke orang tuaku di kampung. Lantas aku diceramahi. Lama sekali. Mengikuti aturan kesopanan, aku pun mengangguk-angguk saja.
Bagiku pribadi sebenarnya gaji tidak terlalu bermasalah. Aku masih sempat nabung meski tidak banyak. Tapi aku tidak berhak meng-generalisir kondisiku kepada teman-teman yang lain. Aku maklum kalau kebutuhan orang berbeda-beda.

Menjelang maghrib, semua batch angkatanku dikumpulkan dan diminta berbicara semua yang dikeluhkan. Tidak semuanya ngomong, padahal semuanya seperti punya masalah.
Sehabis maghrib aku ke ruangannya Mas Iwan lagi. Dan kami bicara banyak tentang pertemuan tadi. Kami juga berdiskusi sedikit tentang jurnalisme --terutama prinsip jurnalisme yang kuanut. Aku bilang sama Mas Iwan, "Mas, saya sudah menganggap Mas Iwan sebagai orang tua saya di sini, karena saya tidak punya siapa-siapa di kota ini. Kalau seandainya saya salah, tolong tegur saya..."

Sebenarnya kami membicarakan sesuatu yang agak krusial, dan beliau banyak menasehatiku.

Keluar dari ruangan Mas Iwan aku merasa agak tenang.
Satu kesimpulanku: "Jangan pernah mengandalkan hidupmu pada orang lain. Karena tak ada yang paling paham tentang diri kita selain kita sendiri..."

Friday, July 04, 2003

Sebuah Ruangan

Sekali dalam hidup, kita harus menentukan sikap...
atau kita tidak akan jadi apa-apa!

--kata Pramoedya--


Sebelumnya kan kuceritakan tentang sebuah ruangan di kantorku:
Sebenarnya hanya sebuah aula biasa saja. Luas dan lapang. Di salah satu sisinya dipasangi kaca yang membuat kami bisa melihat ke luar, ke jalan dan tempat parkir.
Jika bukan hari Jumat, ruangan itu kosong belaka. Kadang-kadang saja dipakai sebagai ruang tunggu bila ada acara di Studio 1 (biasanya Diva Dangdut, KD show, atau Goyang Inul). Pada malam-malam tertentu juga sering dijadikan tempat latihan senam bagi karyawati-karyawati yang selalu resah bila tubuhnya mulai didiami selulit.

Seorang teman bercerita, konon dulu tak pernah terpikirkan untuk memanfaatkan ruangan itu sebagai "masjid" bagi para karyawan untuk shalat Jumat. Awalnya ruangan itu dibiarkan saja kosong, dan para karyawan mesti menyebar mencari masjid untuk sekedar beribadah. Tak terpikirkan. Sampai pada akhirnya mereka datang...

Tapi mereka sebenarnya tidak banyak jumlahnya. Hanya segelintir dari jumlah seluruh karyawan yang ribuan.
Hanya mereka... hanya mereka yang rela berbuat untuk agama Allah ini.

Sedang aku? Di mana sebenarnya aku berada?

Wednesday, July 02, 2003

Rokok


Tanpa kusadari, aku mulai ngerokok lagi. Hari ini sudah kuhabiskan 3 batang.
Entah, apa yang ada di kepalaku. Rasanya semuanya menjadi berat.
Betul-betul pengecut aku ini! Bahkan terhadap pilihanku sendiri pun aku mesti melarikan diri...

"Aku hanya ingin tidur yang lama.
Aku ingin tidur yang lama,
buat melupakan semuanya barang sebentar..." --Bila, BL--