tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, June 09, 2003

So, My Friend, Why Glorify War?

Ketika ini kutulis, Perang Aceh sudah memasuki hari ke-19. Tafsir terus bertebaran tentang situasi di mana manusia berusaha saling membunuh itu. Berseliweran, seperti desing. Terus terang kadang-kadang membuat muak. Tadi pagi TV 7 menayangkan feature, judulnya kira-kira tentang hikayat perang sabil yang berulang (dengan tanda tanya dibelakangnya).
Di stasiun TV tempatku bekerja, juga tak mau kalah dalam menayangkan yang terhangat tentang Perang Aceh ini. Setiap sore di program Berita Petang selalu diselipkan segmen Aceh Membara yang memunculkan analis militer seorang jenderal purnawirawan, Bapak Suaidi Marasabessy. Senantiasa beliau menjelaskan perkembangan terakhir Perang Aceh, kadang-kadang diselingi dengan teori-teori perang Shun Zu dan entah siapa lagi. Pak Suaidi, nama itu pernah begitu familiar di telingaku. Terakhir aku melihatnya waktu beliau masih menjabat Pangdam VII Wirabuana, dan aku masihlah seorang mahasiswa tolol yang gemar berdemo. Tak kusangka kami bisa bertemu lagi di sini, meskipun aku yakin tak tersisa sedikitpun ingatan di kepalanya tentang mahasiswa-mahasiswa jaman dulu yang sering ditemuinya di jalan.
Kembali ke masalah Perang Aceh.
Sampai tanggal 6 Juni 2003, akumulasi korban dan kerugian material yang kubaca di Koran Tempo, GAM: 103 tewas, 41 menyerah, dan 32 tertangkap. (Tak tahu bagaimana nasib Jamaluddin, bocah 15 tahun anggota GAM yang tertangkap sekitar 2 minggu lalu, dan fotonya tersebar di media massa dunia melalui AP… dia mengingatkanku pada adikku di kampung, seusia dia dan sangat menikmati masa remajanya.) Pihak TNI; 11 orang tewas, 18 terluka. Polisi 3 tewas, dan 7 terluka. Sementara korban sipil tidak ada data, tapi kemarin seorang meninggal, sesosok mayat ditemukan, dan satu warga terluka! -(sumber Koops TNI)
Yang membuatku juga merasa perlu menulis ini adalah karena tewasnya seorang turis Jerman, Lothar Heinrich Albert (54), yang tertembak oleh anggota TNI. Istrinya, Elizabeth Engel (49) juga tertembak di lututnya meski tak sampai terbunuh. Padahal bisa jadi mereka berdua hanya dua orang turis biasa yang punya obsesi berkeliling dunia dengan sepeda. Pada awalnya kupikir mereka backpacker, (sebenarnya memang backpacker, hanya saja mereka bersepeda.) Aku punya ikatan emosional tersendiri dengan sosok backpacker, kurasa orang-orang seperti merekalah yang bisa belajar hakikat hidup dengan kesempatan terbesar. Mengarungi dunia dengan tekad peleburan. Tapi Lothar pasti tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di ujung peluru seorang tentara dari sebuah negara berkembang. Kurasa dia hanya ingin jalan dan melihat dunia luar --seperti yang kuimpikan selama ini-- dan membuatku mesti menabung mati-matian.
Aku tak mau berprasangka buruk terhadap TNI. Aku berusaha untuk tetap netral. Dari apa yang telah kualami selama ini, sedikit banyak telah mengubah pemahamanku tentang fasisme dalam tanda petik. Dua hari lalu aku meliput pelepasan pasukan Marinir ke Aceh di Kolinlamil Tanjung Priuk. Aku melihat kalau mereka (mungkin) juga sesungguhnya tidak benar-benar ikhlas melakoni perang ini. Ada seorang komandan pasukan pemukul yang harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil 9 bulan, tinggal menunggu hari saja. Dan seorang ayah yang terpaku di geladak kapal ketika melihat anak gadisnya yang masih kecil menangis meraung-raung karena merasa dibohongi. "Ayah bohong katanya cuma mau latihan... Ayah bohong!", sementara sang ibu sibuk menenangkan gadis kecilnya itu. Juga sepasang pengantin baru yang baru tiga minggu menikah. Apa yang harus kita komentari dengan ini semua? Tiba-tiba semuanya mesti ditinggalkan, demi apa yang mereka sebut nasionalisme.
...
Ah. Sebenarnya aku masih ingin nulis banyak, tapi jari-jariku belum bisa berkordinasi terlalu baik dengan otakku.
So, my friend, why glorify war?