tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, June 13, 2003

Rumah Kecil

Ingin punya rumah kecil, tapi tanahnya luas. Padahal kami hidup di dunia semu

Setiap hari sepertinya aku dipaksa untuk percaya bahwa situasi tempatku hidup sebenarnya bukan realitas. Kami hidup di sebuah dunia di mana semua orang berlomba-lomba ingin kelihatan dengan penampilan terbaiknya. Tidak bisa berharap banyak untuk menemukan kebersahajaan di sini. Karena semuanya telah dikemas agar bisa dijual. Apapun itu; kriminal, ekonomi, politik, bahkan agama.
Jika kalian melihat seseorang tampak menangis seperti menyesali dosa pada sebuah program zikir massal di TV, itu bukanlah untuk menyentuh relung hati orang lain agar berbuat yang sama. Itu untuk menarik pengiklan. Itu untuk meningkatkan rating.
Ketika Inul "dipaksa" untuk tampil setelah lama diam, itu bukan tanda simpati pada seseorang yang ditindas kebebasan berekspresinya. Itu demi rating.
Hari Rabu kemarin --hari di mana rating diumumkan oleh Nielsen, di tempat kami banyak orang saling memberi selamat, karena rating program Rindu Inul mencapai 25.9! Rekor mengalahkan Bidadari 2 yang telah bersusah payah memaksa Marshanda untuk bertingkah seperti anak ajaib tak berdosa.
Ucapan selamat atas keberhasilan mendatangkan para pesohor dan pejabat-pejabat untuk rela dipantati Inul.
Begitulah.
Karena kami hidup di dunia antah berantah. Semua orang ingin tampil menawan. Semua orang ingin menjadi pusat perhatian. Tak ada lagi yang orisinil. Kami mengemas penderitaan orang lain sedemikian rupa agar bisa menarik sebanyak mungkin penonton. Kami mengobrak-abrik memori menyakitkan orang lain, untuk diumbar tanpa memberinya solusi. Barangkali hanya segepok uang lelah dan sedikit ucapan terima kasih.
Begitulah. Kadang-kadang kami lelah juga untuk terus berpura-pura.