tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, June 19, 2003

Rumah Kami


Tadi malam aku nelpon ke ibuku di Bone, dan dapat kabar kalau tempat kami baru saja dilanda angin puyuh. Kata ibuku, rumah-rumah tetangga banyak yang rusak. Tapi rumah kami, alhamdulillah, tidak mengalami kerusakan berarti. Hanya satu lembar atap seng saja yang terbang entah kemana…

Kejadiannya malam hari sekitar jam sebelasan, dan ini pertama kali terjadi di kampungku. Keluarga kami bukan keluarga yang percaya pada hal-hal tahayul, tapi menurut ibuku siang hari sebelum kejadian, seorang wanita tua peminta-minta tiba-tiba muncul di sekitar rumah kami. Oleh ibuku wanita tua itu diberi uang ala kadarnya.

Sempat ibuku menyinggung cerita di masa lalu tentang seorang pengelana yang tiba-tiba muncul di sebuah kampung. Aku ingat cerita itu. Pengelana itu kehausan dan kelaparan, tapi seisi kampung malah memperlakukannya tidak adil. Tak ada yang memberinya minum dan makanan, kecuali seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah gubuk. Gadis kecil itu memberinya minum dari gelas tempurung, karena memang hanya itulah yang dimilikinya. Pengelana itu kemudian pergi setelah mengucapkan terima kasih. Bersamaan dengan kepergiannya, kampung itu tiba-tiba terendam air, dan tenggelam. Kecuali satu rumah; rumah gadis kecil itu.

Aku tidak bermaksud untuk ujub menyamakan kasus kami dengan gadis kecil dalam cerita itu. Tapi bagiku, seorang yang teraniaya sudah seharusnya ditolong. Dalam Islam, orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin dianggap sebagai orang yang mendustakan agama. Naudzubillah.

Terlepas dari itu semua, bencana itu adalah peringatan bagi kita semua. Bahwa kita sebenarnya bukan apa-apa di tengah semesta maha luas ini. Kita tak lebih dari selembar kertas tisu, atau debu. Di hadapan Sang Khalik, kita ini apalah...