tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, June 15, 2003

Realis

Di kafe kantor ketemu Mas Tomi, suaminya Mbak Helvy Tiana Rosa.
Lewat tengah malam aku dan Ewin sudah mau balik ke kost, sementara Mas Tomi baru datang buat tugas sebagai produser pagi. Sambil menunggui dia makan, kami ngobrol-ngobrol tentang FLP, dan juga tentang stasiun TV ini.

Bagi Mas Tomi mungkin itu hanya obrolan biasa-biasa saja, tapi bagiku itu kesempatan untuk mencari "pembenaran" pada sisa-sisa ideologi yang kubawa dari jauh. Dengan itu aku berharap bisa menemukan kesesuaian pada apa yang kulakoni selama ini.

Kami ngobrol tidak lama, tidak sampai satu jam. Selesai makan Mas Tomi pamit bertugas. Aku dan Ewin juga bergegas pulang karena besoknya mesti bangun pagi-pagi lagi. Jalanan sudah sepi, kendaraan hanya satu dua yang lewat. Jakarta betul-betul sunyi sekali di malam hari.
Mendekati tempat kost kami, aku teringat kembali pada obrolan tadi. Aku tiba-tiba saja merasa sangat konyol dan tolol, karena mempertahankan apa yang selama ini kuyakini.
I'm not an idealist anymore, I'm a bitter realist!