tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, June 20, 2003

Pak Ong

"Cari Pak Ong ya..."
Seorang pemuda menyapa kami sebelum kami sempat turun dari mobil. Kami takjub, tapi segera maklum, kalau yang kesasar ke sini pastilah mencari Pak Ong.
"Tunggu sebentar ya, Mas."
Di dalam, pemuda itu –Hendri namanya— mempersilahkan kami duduk dan tak lupa menawari minum.
Ditinggal seperti itu memberi kami kesempatan untuk melihat-lihat. Rumah Pak Ong sangat artistik, sekelilingnya dinding tembok yang dibuat seperti belum diplester. Ruang tamunya langsung bersatu dengan halaman. Di sebelahnya ada kolam ikan. Cahaya dari lampu yang sengaja dibuat remang-remang memantul di permukaan kolam. Indah sekali.
Ada sepasang patung dewa-dewi(?) dalam kepercayaan Cina. Empat keramik tanah liat yang disusun menampilkan gambar kepala kuda tergantung di dinding.

Tak lama Pak Ong keluar, beliau duduk di atas kursi roda yang didorong Hendri. Serangan stroke dua tahun lalu telah membuatnya menjadi tergantung pada orang lain.
Dia menyapa kami duluan dengan bicaranya terbata-bata dan tidak jelas. Tapi dapat kupahami. Jika aku tidak salah, Pak Ong bilang seperti ini:
"Itu Hendri," sambil menunjuk pembantunya. "Nanti dia juga dishoting. Anjing-anjing saya juga..."
Di sekitar kami memang berkeliaran beberapa anak anjing kecil. Lucu-lucu.

Ong Hok Ham, sejarawan hebat itu, telah menjalani keniscayaan alam, bahwa semua orang pada siklus kehidupannya suatu ketika nanti akan kembali menjadi bayi, jika dia beruntung bisa mencapainya.

Pak Ong mungkin mengira kami datang untuk membuat profil panjang tentang dirinya. Kelihatan kalau dia sudah mempersiapkan diri sejak tadi. Memakai baju batik, bersepatu, dan membawa handuk merah kecil yang digunakannya menyeka air liur yang sering meleleh tanpa sadar. Tubuh tua itu juga bergetar setiap kali mencoba bergerak. Tapi ingatannya masih kuat, seperti ketika menyebut nama Hatta di KMB.

Kami mengunjungi Pak Ong untuk sebuah wawancara singkat. Beberapa hari ini sebuah isu santer dibicarakan orang, mengenai utang Indonesia kepada Belanda di masa lalu. Jumlahnya 600 juta gulden. Dan kami meminta seorang Ong Hok Ham untuk bicara tentang itu.

Pak Ong, suaramu parau tidak jelas kami tangkap. Tapi kami yakin Pak Ong akan bilang, "Kembalikan sesuatu itu pada yang berhak."

Entah. Rasanya aku tiba-tiba malu pada nasionalismeku. Mudah-mudahan aku salah.