tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, June 14, 2003

Marshanda


Malam ini kami dapat tugas mewawancarai Marshanda. Bintang remaja yang lagi naik daun. Sinetronnya bertahta di puncak rating all station selama berminggu-minggu.
Jam setengah delapan kami sudah di rumahnya. Setelah agak lama menunggu di terasnya, dia keluar menemui kami.
Dia seperti anak ABG kebanyakan, selalu tampak ceria dan tanpa beban. Mengenakan baju terusan pendek. Di lutut kirinya ada bekas luka yang, "habis jatuh, di sekolah...", katanya ketika ditanya.
Dia memang seorang profesional di usianya yang masih begitu belia. Ibunya juga bilang begitu. Sedari kecil memang sudah sering difoto, dan dia tidak pernah menyulitkan fotografernya. Menurut ibunya itu bakat alam yang dimiliki Caca, panggilan akrabnya.
Karena ini berkaitan dengan Hari Anak, maka kami berusaha menampilkan dia sebagai citra anak Indonesia yang berbakat dan patut dicontoh. Maka kami pun menanyakan tentang buku dan dongeng.
"Iya, saya senang baca buku, Chicken Soup, tau kan?"
"Kalau dongeng?"
"Waktu kecil Mama sering bacain dongeng, Putri Salju."
"Dapat manfaat tidak dari dongeng-dongeng itu?" Dewi, teman reporterku bertanya.
Marshanda berpikir agak lama sebelum menjawab, "Mmm... kalo sekarang sih kaya’nya nggak ada. Kan udah jutaan tahun yang lalu."
Ibunya hanya tertawa. Aku juga ikut-ikutan tertawa, meski tidak tahu apanya yang lucu.

Itulah Marshanda. Jutaan anak muda sebayanya bermimpi agar bisa seperti dia. Untuk bisa menemaninya bermain-main di dunia atas, dunia mimpi bagi sebagian anak-anak kita. Tapi dia mengaku hampir tidak pernah menonton TV, karena mesti konsentrasi pada sinetronnya yang sedang kejar tayang.
Saat kutanya bagaimana jika ada kesempatan untuk bermain film serius (maksudku film seluloid), wajahnya tambah berseri-seri. "Wah, mau! Mau sekali!" jawabnya sambil memeluk bantal kursi.
Di kaset kami sudah terekam gambarnya sedang main piano, membaca buku, main skateboard , dan sedang mengelus-elus lima anak kucing kesayangannya. Figura sebagai anak baik dan cerdas.

Pertemuan ini pun menyenangkan belaka, hingga tak terasa satu setengah jam lebih kami telah mewawancara dan mengambil gambarnya. Membuat kami hampir lupa pada Pak Isa, driver yang terkantuk-kantuk menunggui kami di mobil.