tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, June 27, 2003

Lagi, Aku Membuat Ibuku Sedih


Seharusnya tidak perlu terjadi, toh aku bisa menahan untuk tidak mengatakannya.
Tapi kukatakan juga! Padahal aku sendiri tidak yakin pada apa yang akan kulakukan nanti.
Dulu, waktu memutuskan untuk memilih program studi jurnalistik di jurusanku, Ibu sempat mengingatkan, "Sebelah kakimu sudah di neraka, Zan!" Artinya tinggal sebelah lagi, maka lengkaplah kehancuranku.
Ibu memang percaya pada apa pun pilihanku, tapi --seperti yang selalu tersirat dari kata-katanya-- Ibu juga tidak pernah sepenuhnya yakin pada pikiran-pikiranku. Menjadi jurnalis mesti jujur, dan ibu tidak terlalu yakin pada kejujuranku.
Sering aku sendiri mengukur-ukur, seberapa jujur aku sebenarnya. Dan tak pernah kutemukan grafik memuaskan yang membuatku bisa menghibur diri.
Aku mungkin tidak cocok dengan pekerjaan ini. Pekerjaan yang mendewakan kebenaran melalui kata dan tulisan, dan kepada banyak orang dia mesti berpihak.
Itu artinya keberanian. Itu artinya kejujuran.
Sedang aku? Pada diri sendiri pun kadang aku berbohong. Seperti misalnya apa aku benar-benar mencintai pekerjaan ini? Apa situasi ini benar-benar menyenangkan bagiku?
Argh!!! Aku tahu, tak ada jawaban pasti.
Maka kuputuskan untuk mengatakan pada ibuku tentang niatku untuk resign.
Kali ini beliau tidak banyak bicara. Hanya mengingatkanku saja, pada apa yang pernah dipesankannya dulu.
Bunda, aku bukannya tidak bisa jujur. Tapi dalam dunia yang hanya kebohongan yang bisa kita beli murah... apalah yang bisa kulakukan dengan tangan kecil ini?
Maafkan, Bunda, tapi aku benar-benar lelah...