tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, June 18, 2003

Diabaikan

Sore-sore berangkat dari rumah, aku sudah membayangkan peristiwa apa lagi yang akan kutemui nanti. Pengedar putaw yang ditembak --seperti malam sebelumnya--, pencabulan, pengeroyokan, perkosaan, pencurian, atau pembunuhan?
Tapi ketika berangkat dari kantor, kami tertawa. Malam ini kami ditugaskan meliput berita gosip! Kantor kosong dan yang ada cuma kami. Maka jadilah kami meluncur ke sebuah rumah mewah di kawasan Cibubur.

"Maaf, Mbak... terlambat. Sudah lama ya nunggunya?"
Dia tersenyum, seperti memaklumi kesalahan kami yang seharusnya tiba tepat waktu. Tanpa banyak basa-basi, dia kemudian bergegas membuka pintu rumahnya yang berlapis-lapis.

Seorang mantan model, pemain sinetron, ibu dua anak yang masih kecil. Dia memamerkan salah satu gadis kecilnya pada kami. "Umurnya sekarang sebelas bulan, dan sejak lahir baru sekali tuh bapaknya nengok dia..."
Dia selalu berusaha untuk kelihatan gembira dengan banyak tertawa. Meski kelihatan kalau dia sebenarnya sedih bukan main.

Seorang mantan model, pemain sinetron, ibu dua anak yang masih kecil. Besok dia diundang wawancara live di studio TV kami. Stasiun TV yang layarnya tempo hari menampilkan gambar suaminya, seorang atlit nasional terkenal, berjalan bersama dengan seorang gadis di suatu tempat entah di mana.

Tak ada yang paling menyakitkan bagi seorang perempuan selain perasaan diabaikan. Dia sedih tentu saja, seperti kami juga sedih karena harus "mengurusi" rumah tangga orang. Itu mestinya kerjaan infotaintment!

Malam ini seharusnya kami meliput berita kriminal.