tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, January 02, 2010

datang lagi

tepat ketika tahun berganti baru.
pemotong rumput datang.
masih meranggas.
dia angkat tangan.

Wednesday, September 30, 2009

datang

seperti sesuatu yang akrab, berteman sudah lama sekali. inilah aku datang berkunjung sekali-sekali. agar tak lupa. dia pernah bikin aku tegak. waktu itu. waktu yang sudah lama sekali.

Friday, May 22, 2009

Kota Tua

Seperti kota tua yang hanya kau kunjungi sekali-sekali...

Wednesday, May 14, 2008

saya melanggar janji untuk tidak berkunjung ke sini lagi. setahun telah berlalu, rupanya. seperti waktu kecil ketika kami mengunjungi rumah Perumnas setelah membiarkannya terbengkalai sekian lama. Semak rerumputan meninggi, cat kusen terkelupas dihempas hawa, dan dinding yang dipenuhi grafiti gambar hati yang dibuat oleh anak-anak kecil dari gerusan batu bata merah.

entah apa namanya perasaan itu. tidak juga sedih. marah pun tidak. seperti ketika rumah Perumnas kami yang akhirnya hilang, disita bank untuk membayar hutang Bapak. Itulah bayaran "kebaikannya" untuk melindungi atasan yang khianat.

saya hanya datang berjalan-jalan, melihat-lihat. sesekali ini saja.

Monday, March 05, 2007

Last Post

Bukan itu lagi yang saya inginkan,
saya sudah berhenti bermimpi menyambung garis pada peta.
Kamu tahu yang saya inginkan benar-benar sekarang.
Wallahu alam, jawabmu. Wallahu alam.

Saturday, February 24, 2007

[....]

Almarhum Bapak pernah bilang, amarah itu seperti panas api, dan hanya tukang besi yang diuntungkan oleh panas api.

Kemarin, sang mursyid bicara tentang kesalahan. Beliau yang sesungguhnya tak pernah setuju saya anggap mursyid itu selalu memaparkan sesuatu yang berjalan di luar kelaziman. Kali ini dia bilang, berbuatlah kesalahan setiap hari, tapi harus dengan dua syarat. Pertama, kesalahan itu harus kesalahan baru, dan kedua, dari setiap kesalahan itu kita harus selalu mengambil pelajaran. Jika dua syarat itu tidak terpenuhi, maka bergabunglah di barisan di belakang keledai. Karena keledai sekalipun tak akan terantuk pada batu yang sama. Dan saya merasa seharusnya di situlah saya berdiri, di barisan belakang keledai itu.

Tadi malam (atau tadi subuh?) saya mimpi almarhum Bapak datang menyalami mursyid saya. Semoga ini anti-klimaks dari semua kejadian yang memberatkan belakangan ini. Saya mulai lelah. Beberapa kali saya mendatangi sang mursyid, dan selalu saja saya merasa salah masuk ruangan. Tapi semoga kali ini benar. Turbulensi itu harus segera diakhiri.

Saya yakin Allah Maha-Baik. Kita saja yang terlalu sering berprasangka buruk kepada-Nya. Dengan semua dosa yang kita perbuat, tak pernah berhenti nikmat-Nya mengalir. Dia menutupi segala aib kita sehingga kita bisa tetap tampak seolah-olah orang baik.
Dan selalu Dia mengirimkan orang-orang tertentu untuk membantu kita meluruskan langkah, atau sekadar untuk memahami makna.
Seperti Dia mengirim Takuan Soho kepada Musashi. Seperti Dia mengirim Syamsuddin Tabriz kepada Maulana Jalaluddin Rumi.

Thursday, February 22, 2007

Satu Hari

Tuhan, ampuni aku. Aku bukan aulia yang pemaaf.

Sekali lagi, aku janji, akan bikin perhitungan dengan siapapun yang telah membuat hidupku tidak nyaman!

Dan kamu, teruslah berdoa aku tetap sadar. Supaya hidupmu senantiasa tenang dan bahagia. Sori, ikhlas masih jauh di awang-awang.

[mengenang satu hari yang brutal, 210207]